|
Pameran "Peta Benda-Benda di
Gondomanan"
oleh Kunci Cultural Studies Center
Bapak Pucung,
Pasar Mlati Kidul Denggung,
Kricak Lor Nagara,
Pasar Gedhe loring loji,
Menggok ngetan kesasar nyang Gondomanan (1)
Pada dasarnya peta adalah kumpulan cerita. Proyek ini
bertujuan untuk memberi makna lain dari peta. Peta yang bukan
sekedar berfungsi menunjukkan arah dari suatu tempat ke tempat lain.
Peta yang tidak sekedar menunjukkan deretan rumah, toko, atau gang.
Tetapi juga bisa menunjukkan jalinan sosial, ekonomi, gosip,
perebutan kekuasaan antar penghuni, yang ada di sepanjang ruas
Gondomanan.
Pintu masuk yang kami pilih kemudian adalah dengan melakukan studi
atas benda-benda (komoditas) yang ada di Gondomanan. Jadi ini adalah
peta benda-benda. Benda-benda apa saja yang diperjualbelikan disana,
siapa yang melakukan praktek pertukaran tersebut, apa yang
melatarbelakangi pemilihan lokasi untuk pertukaran benda-benda itu,
bagaimana sejarah benda-benda tersebut, bagaimana semua itu
didistribusikan (praktek persebaran), darimana pengetahuan produksi
atas suatu komoditas diperoleh, apa yang mendasari satu benda
populer pada jamannya.
Mengapa kami akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi kepada
benda-benda dalam proyek ini? Pertama, kami memang tidak meniatkan
diri untuk benar-benar membuat suatu proyek konservasi lingkungan
atas wilayah Gondomanan. Kami mencoba membuat studi atas sesuatu
yang lebih sesuai dengan latar belakang wilayah kerja kami selama
ini. Akhirnya pilihan jatuh kepada benda-benda atau komoditas yang
kami jumpai di wilayah itu. Kedua, benda-benda memang sesuatu yang
bisa berubah-ubah, dalam arti mereka bisa berada di mana saja, dan
dengan demikian tidak bisa dijadikan patokan kekhasan suatu tempat.
Disini kami lebih tertarik untuk mempelajari benda-benda, baik dari
sisi materialitas dan menggali cerita yang ada dibaliknya.
Kami melakukan wawancara, studi atas iklan-iklan lama di majalah dan
koran lokal lama, mencocokkan data-data visual yang kami miliki
dengan ingatan informan yang kami wawancarai. Sebagai hasil akhir,
kami menggabungkan berbagai macam perangkat yang memungkinkan
munculnya peta tersebut mulai dari foto-foto, video, esai, dan
drawing berisi rekonstruksi atas titik-titik tertentu dari
Gondomanan.
Sepeda, Sepeda Motor, Skuter
Satu temuan tentang Gondomanan adalah bahwa jalan ini penuh dengan
benda-benda komoditas perjalanan fisik: roda, ban, sepeda, sepeda
motor, tambal ban, bis kota.
Belum diketahui siapa yang memelopori membuat toko sepeda di jalan
ini. Tetapi pada 1959 tercatat ada toko sepeda “Tjong & Co”, di Jl.
Gondomanan 9. Toko ini tampaknya tidak hanya menjual sepeda, tetapi
juga menjual dan membeli ban serta menerima pekerjaan vulkanisir ban
truk dan sedan. (2)
Toko Sepeda “Tjong & Co”
Jalan Gondomanan 9, Yogyakarta
Menerima: pekerjaan vulkanisir ban-ban, truck dan sedan. Djual beli
ban-ban.
Kapan sepeda mulai dikenalkan kepada publik Indonesia? Dari Jejak
Langkahnya Pramoedya Ananta Toer paling tidak kita tahu kalau sepeda
sudah bukan sesuatu yang asing di Batavia pada awal abad 20. Seperti
kata Minke pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi Betawi (3):
Delman, grobak, saldo, bendi, victoria, dokar—semua persembahan
peradaban pendatang beriringan di setiap jalan.
Penunggang-penunggang kuda dalam pakaian aneka ragam. Juga sepeda!
Tidak lagi jadi tontonan umum! Aku juga akan punya. Berapa kiranya
harganya? Gesit benar pengendara si rodadua itu. Orang mengayuh
pelan, dan semua pemandangan tak luput dari mata...
Melihat keadaan sekarang (th.2006), dimana di jalan ini banyak
didapati toko yang menjual ban-ban mobil, juga tukang-tukang tambal
ban, memang bisa dikatakan bahwa ban adalah salah satu komoditi—dan
bagian dari spare part sepeda—yang penting dari jalan ini. Merunut
sejarah penggunaan makam Belanda Kerkhoffen sebelum akhirnya kita
kenal sebagai THR Purawisata sekarang, ternyata ia sempat
difungsikan sebagai terminal sementara bis-bis antar kota. Dengan
begitu, Jalan Gondomanan adalah jalan protokol yang ramai. Wajar
jika komoditas yang banyak dijual di sana adalah sesuatu yang
berhubungan dengan kendaraan bermotor (sparepart mesin, bengkel
motor/mobil, mur baut, ban, vulkanisir, dsb). Dan karena itu tidak
aneh juga ada sebuah toko sepeda yang juga melayani vulkanisir ban
truk dan sedan, seperti toko sepeda “Tjong & Co” diatas misalnya.
Di Jalan Gondomanan ini, ada titik dan sudut jalan dimana para
pedagang/pengusaha kecil kaki lima ini menjalankan usahanya secara
berkelompok. Misalnya di depan kompleks SD/SMP Marsudirini—ada
deretan rombong-rombong tukang kunci. Ada tujuh tukang kunci
berderet-deret dari depan kompleks sekolah itu sampai pengkolan
jalan menuju Jalan Ibu Ruswo (dulu Jalan Yudonegaran). Sementara
tukang tambal ban atau setel roda bisa dijumpai dengan mudah di
sepanjang Jalan Gondomanan mulai dari depan jalan masuk menuju GKI
Gondomanan sampai depan Purawisata. Orang-orang dengan keahlian
spesialis perbaikan ban dan yang berhubungan dengan roda ini lebih
banyak berlokasi di sisi kiri jalan—itu kalau kita masuk Jalan
Gondomanan dari arah wilayah Loji Kecil (sekarang dikenal dengan
nama Jalan Mayor Suryotomo).
Lurus saja dari arah Jl Gondomanan menuju ke selatan, kita akan
melewati Jl Kintelan. Dan di sana ada pasar sepeda “Wetan Benteng”,
tepatnya di Jl Kintelan 54-56. Begini bunyi iklan pasar sepeda itu
(4) :
Tanggung tidak akan ketjewa. Mengenai keperluan sepeda anda dapat:
Mendjual speda jang lekas laku menurut harga pasar
Membeli speda jang tidak keblosok dan harga murah
Tukar-tambah speda jang dapat lajanan ramah-tamah dan memuaskan
Buka djam 8-21 Minggu & hari raja buka terus
Sepeda termasuk jenis kendaraan yang paling banyak lalu lalang di
jalanan kota Yogyakarta pada akhir tahun 50-an sampai 60-an. Selain
sepeda, ada becak, dokar, gerobak, grindhing. Sepeda motor dan mobil
masih sangat jarang. Usaha sepeda di Gondomanan yang paling aktif
beriklan di media lokal macam Kedaulatan Rakjat, paling tidak di
sepanjang tahun 1950an dan 1960an adalah Pasar Sepeda Wetan Benteng
Wetan dan Toko Sepeda “Tjong & Co”. Toko sepeda lain di jaman itu
bisa juga dijumpai di Jalan Malioboro 7 (Toko Sepeda Eng Long) dan
Jalan Lodji Ketjil 20 (Toko Sepeda & Reparasi Wirio Soeseno),
keduanya berlokasi tidak jauh dari Gondomanan.
Merek-merek mobil atau sepeda motor yang paling beredar pada masa
itu adalah bikinan Eropa. Untuk mobil kita bisa menyebut merek Fiat,
Dodge, Ford, Impala dan Chevrolet. Sementara untuk sepeda motor kita
bisa menyebut nama-nama DKW Hummel, BMW, BSA, Puch, Norton, Ducati
Luxor, atau Vespa. Skuter atau vespa tampaknya merupakan jenis
kendaraan yang paling populer pada masa itu (5). Vespa dan kendaraan
sejenisnya digambarkan sebagai kendaraan yang cantik, indah dan
elegan. Simak iklan Lambretta di bawah ini (6) .
Pilihan Dunia Beralih ke Lambretta
Lambretta akan muntjul kembali di Indonesia...dan semua matjam
scooter akan jadi ketinggalan zaman! Tunggulah saat muntjulnya
Lambretta type J 125 di tengah masyarakat Indonesia. Anda akan
menyaksikan gagasan terbaru di bidang kendaraan beroda-dua.
Bentuknya: lintjah, mungil dan indah...Pendjelmaan gemilang dari
gaya seni rupa Italia modern. Keunggulan teknisnya: Lambretta type J
125 merupakan hasil penjelidikan dan pemikiran mendalam untuk
mentjiptakan kendaraan yang harus memenuhi segala sjarat sebagai
alat pengangkutan rakjat...murah, kuat dan tinggi daja tahannja.
Djalannya: bandingkan dengan scooter lain...
Nikmatilah betapa ringan dan luwesnja ia meluntjur diatas djalan
kasarpun. Pendeknja djika anda berniat membeli scooter, tunggulah
sampai anda dapat selidiki dan bandingkan sifat-sifat dan kemampuan
Lambretta type J 125. Pasti. Pilihan manapun akan beralih ke
Lambretta.
Lambretta. Pabrik scooter terbaik di dunia.
Penegasan kesan indah dan elegan ini dilakukan lewat acara-acara
macam pawai atau karnaval antara para pemakai kendaraan ini. Seperti
tercatat dalam iklan ajakan berpawai ini (7).
“Sudahkah anda mendaftarkan: Vespa Scooter Concours d'Elegance?
Ikutilah beramai-ramai Vespa carnaval pada tgl 16 Mei 1959 djam
16.50 WIB, kumpul di Sekolah Pontjowinatan. Tanpa pembajaran, bahkan
disediakan benzin.”
Iklan tersebut menunjukkan bahwa ternyata aktivitas
pawai atau tradisi perkumpulan antar kendaraan dengan merek yang
sama—seperti sering kita jumpai sekarang perkumpulan antar pemilik
skuter Mio, Honda Tiger, Taruna, sepeda onthel, Harley Davidson—samasekali
bukan hal baru.
Tiga hari kemudian di media yang sama muncul berita foto acara
karnaval skuter itu. Dalam karnaval itu diselenggarakan kompetisi
fesyen sambil bergaya dengan skuter masing-masing.(8)
Vespa Scooters Concours d’elegance di Jogja.
Kiri ke kanan: Trees Tan pemenang ke-3 carnaval dengan pakaian putri
Bali; Joyce Andu pemenang 1 dan 3 single wanita: (Joyce dengan piala
dan sebelahnja bergaja dengan pakaian sport); Fauzi pemenang 1
single prija; pemenang double 1 & 2 R Ibrahim dan Emmy beraksi.
Gambar kanan sekali: Betty Mathews dengan piala kemenangannja di
double bersama Ibrahim djuga.
Melihat tahun kemunculan skuter di negara asalnya sana serta
peredarannya di negara-negara Eropa atau Amerika, serta dihubungkan
dengan popularitas skuter di Yogyakarta pada masa-masa yang
bersamaan, maka bisa disimpulkan bahwa Yogyakarta, bersama dengan
kota-kota besar lain di Indonesia masa itu adalah kota-kota yang
tidak ketinggalan jaman, selalu mengikuti perkembangan benda atau
komoditas lain yang penting dari belahan dunia lain.
Mungkinkah karena desainnya yang elegan dan seksi itulah maka para
pengendaranya juga selalu tertantang untuk selalu bergaya dengan
kendaraannya itu. Selain itu, skuter juga merupakan kendaraan roda
dua yang menawarkan keintiman bagi pasangan pengendaranya. Jarak
menjadi hilang. Yang asing menjadi akrab dan hangat.
Cemara Sepi
…Mesin skuter berderum-derum. Dan tuternya empat-lima kali
panjang-panjang. Tody menjenguk lewat jendela warung. Lalu
cepat-cepat membayar minumannya dan keluar.
Irawati menggoyang-goyang stir skuternya.
“Jadi kita pergi?” tanyanya.
“Oke.”
Lalu gadis itu turun dari sadel. Tody menggantikan tempatnya. Dan
mereka beranjak.
“Tak ambil jaket dulu?” kata Irawati disela redanya mesin antara
persneling satu dengan dua.
“Tak usah,” jawab Tody sambil menancap gas.
“Nanti dingin…..”
“Ada kau kan hangat.”
“Aha, mulai pandai merayu. Kenapa tak sejak dulu begitu?”
“Ah, diamlah.”
Dan kecepatan mereka tambah tinggi. Angin berkesiur. Semakin jauh
dari kampus Gajah Mada. Meninggalkan jajaran cemara dan pohon
flamboyan.
Hari kesembilan dalam pergaulan mereka. Dan kini mereka disambut
naungan pohon mahoni sepanjang jalan keluar kota. Anginpun mulai
terasa kemurniannya. Jalan kian menanjak. Semakin tertinggal bau
kota yang hiruk dan tengik, mereka melaju menuju Kaliurang.
Di jalan yang berbelok-belok, Irawati mendempel ketat ke punggung
Tody. Lelaki itu menaksir-naksir jalan di depannya, dan merasakan
getaran mesin lewat tangannya yang mencengkeram gas. Tubuh gadis itu
lunak. Pipinya menempel di bahu Tody. Hingga anak-anak rambutnya
mengelus-elus pipi lelaki itu.
Keluarga gadis itu punya rumah peristirahatan di Kaliurang. Rumah
yang halamannya berumput halus, dan ditumbuhi bunga-bunga. Dan sepi.
Hanya ada pelayan suami-istri yang selamanya bersikap seperti hamba
terhadap majikannya. Kedua orang itu dari tahun ke tahun mengabdikan
diri untuk kesenangan majikannya, orang-orang kota itu. dari tahun
ke tahun hidup di daerah gunung yang sepi pada hari-hari yang bukan
hari libur. Tak pernah memikirkan lain, kecuali mengerjakan
tugas-tugas di lingkaran bungalow itu.
Ke situlah sekarang tujuan skuter itu. Irawati mengomando, apakah
skuter harus belok ke kiri, terus, lewati pertigaan, terus, belok
kanan, menanjak lagi, terus, dan hop! Tody memijak rem.
“Bunyikan tuternya,” kata Irawati .… (9)
Berapa harga-harga kendaraan bermotor pada masa itu? Situasi
perekonomian di Indonesia pada akhir 1950an tidak begitu baik.
Kebijakan sanering atau pemotongan uang kertas membuat nilai rupiah
menjadi jatuh. Kondisi ini ikut mempengaruhi harga-harga kendaraan
bermotor. Tetapi meski harga telah jatuh, masyarakat tetap dingin
bereaksi. Cuplikan berita berikut menyoroti keadaan di Jakarta
(10).
Meski demikian, kondisi yang tidak terlalu jauh berbeda saya rasa
terjadi juga di Yogyakarta.
Pasaran sepeda motor di Jakarta
Sebagai akibat dari sanering nampak turunnya harga-harga waktu ini
yaitu kurang lebih 30-45% dari harga lama. Harga sepeda motor
kita-kira 2 bulan jang lalu selalu melonjak dan menaik hampir setiap
waktu disebabkan banyaknya pembeli. Tetapi meski harga telah sangat
jatuh namun pembeli belakangan ini belum perlihatkan reaksinya.
Menurut mereka masih menunggu dan menduga harga-harga yang akan
turun lebih lanjut lagi.
Saya akan menyalin tabel berisi perubahan harga pasaran sepeda
motor. Dan dari tabel ini juga kita bisa mencermati merek-merek
sepeda motor yang beredar di jalanan, gambaran suasana benda-benda
dan properti yang dimiliki masyarakat masa itu.
|
|
Harga per 18-8-1959 |
Harga per 10-9-1959 |
|
JAWA 350 CC
|
|
|
|
1954 |
Rp. 27.500 |
Rp. 14.000 |
|
1955 |
Rp. 30.000
|
Rp. 17.000 |
|
1956 |
Rp. 42.500 |
Rp. 22.500 |
|
DKW 125 CC
|
|
|
|
1955 |
Rp. 31.000 |
Rp. 19.000 |
|
1956 |
Rp. 33.000 |
Rp. 21.000 |
|
DKW Hummel
|
|
|
|
1959
|
|
Rp. 30.000 |
|
BMW 250 CC
|
|
|
|
R25 1955/1956 |
Rp. 60.000
|
Rp. 37.500 |
|
R26 1956 |
Rp.105.000 |
Rp. 60.000 |
|
R26 1957 |
Rp.120.000
|
Rp. 65.000 |
|
BSA 350 CC
|
|
|
|
1954 |
Rp. 42.000 |
Rp. 25.000 |
|
1956 |
Rp. 65.000
|
Rp. 35.000 |
|
Goldstar |
Rp. 90.000 |
Rp. 55.000 |
|
Puch 250 CC
|
|
|
|
1955 |
Rp. 55.000
|
Rp. 25.000 |
|
1956 |
Rp. 60.000
|
Rp. 32.500 |
|
1957/1958
|
Rp. 75.000
|
Rp. 42.500 |
|
NSU 250 CC
|
|
|
|
Max 56
|
Rp. 55.000 |
Rp. 30.000 |
|
Super Max
|
|
|
|
1957 |
Rp. 80.000
|
Rp. 50.000 |
|
Zundap P 200 CC
|
|
|
|
1956 |
Rp. 50.000 |
Rp. 30.000 |
|
150 CC
|
|
|
|
1956 |
Rp. 40.000 |
Rp. 20.000 |
|
1958
|
Rp. 50.000
|
Rp. 30.000 |
|
175 CC
|
|
|
|
1955/1956 |
Rp. 42.000 |
Rp. 24.000 |
|
1957/1958
|
Rp. 60.000
|
Rp. 35.000 |
|
250 CC
|
|
|
|
1957
|
Rp. 70.000
|
Rp. 35.000 |
|
Vespa 125 CC
|
|
|
|
1955
|
Rp. 55.000
|
Rp. 25.000 |
|
Norton 500 CC
|
|
|
|
1956
|
Rp. 80.000
|
Rp. 60.000 |
|
350 CC
|
|
|
|
1956 |
Rp. 65.000
|
Rp. 40.000 |
|
Ducati 175 CC
|
|
|
|
1957 biasa |
Rp. 50.000
|
Rp. 25.000 |
|
1957/1958 sport
|
Rp. 55.000
|
Rp. 30.000 |
|
98 CC
|
|
|
|
1956/1957 |
Rp. 40.000
|
Rp. 22.500 |
|
Ducati Luxor 48 CC
|
|
|
|
1956
|
Rp. 20.000
|
Rp. 14.000 |
|
1957
|
Rp. 27.500
|
Rp. 18.000 |
|
Alpino
|
|
|
|
1956
|
Rp. 13.000
|
Rp. 8.000 |
|
Kreidler
|
|
|
|
1955
|
Rp. 12.000
|
Rp. 8.000 |
Bayangkanlah kendaraan-kendaraan itu—bersama dengan becak, sepeda,
dan andong serta mobil—berpacu di Jalan Gondomanan yang asri, karena
sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi jajaran pohon mahoni. Bayangan
jalan seperti diingat oleh Pak Jemek Supardi dan Pak Prayitno ini—yang
asri karena sejuknya bayangan pohon di sisi-sisinya—adalah suasana
sekitar tahun akhir 1950-an dan 1960-an. Mungkin karena pada
tahun-tahun itulah terdapat suasana yang benar-benar berbeda dari
sekarang. Dan mungkin juga karena dampak kebijakan politik dan
pembangunan di Indonesia yang pasti ikut merubah streetscape negeri
ini. Sehingga suasana tahun 1950-an dan 1960-an itulah yang terus
melekat di ingatan mereka.
Tetapi yang pasti, sejauh kepala kita mendongak, belum banyak tiang
lampu jalan dan kabel berseliweran diatas kepala kita. Listrik
sendiri di Yogyakarta secara resmi diperkenalkan pada Februari 1884,
tepatnya pada acara penobatan Gusti Raden Mas Akhadiyat sebagai
putera mahkota, yang nantinya akan menggantikan ayahandanya,
Hamengkubuwono VII. Tahun sebelumnya telah diadakan rangkaian
percobaan penggunaan listrik. Keraton adalah area yang pertama kali
menikmati fasilitas listrik. Seperti dikutip dari terbitan Mataram
bahwa keraton memesan dua mesin uap dengan kekuatan 15 tenaga kuda
untuk memberi daya bagi 196 lampu yang digunakan di
bangunan-bangunan dalam keraton, serta 5 lampu besar yang
dipergunakan di ruangan terbuka. Dan baru pada 1895, dilakukan studi
untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk penerangan jalan dan
rumah-rumah pribadi. Pada tahun itu juga, di jalan-jalan pusat kota
sudah dapat dijumpai lampu jalan dengan bahan bakar minyak dan
gasolin. Pasokan listrik untuk publik akhirnya baru benar-benar bisa
dinikmati oleh masyarakat Yogyakarta pada akhir masa pemerintahan
Hamengkubuwono VII. Pada 1919 itu, Algemeene Nederlandsch-Indische
Electricities Maatschappij atau General Netherlands-Indies
Electricity Company, berhasil membangun jaringan kabel listrik
temporer. (11)
Saat ini kendaraan-kendaraan dengan nama Eropa itu
tidak banyak atau jarang sekali beredar di jalanan negeri ini.
Digantikan oleh nama Asia yang lain. Jepang atau Cina. Dan sekarang
sepanjang mata diedarkan di sisi kiri-kanan Jalan Gondomanan,
tampaklah barisan dealer motor Jepang (Honda, Suzuki, Yamaha) atau
dealer motor Cina (Daiheiyo). Serta deretan ruko yang menjual sepeda
motor bekas aneka merek.
Persepsi orang tentang mobilitas dan kecepatan saat ini sudah jauh
berbeda. Banyak faktor yang membuat orang mati-matian ingin memiliki
kendaraan bermotor pribadi (motor atau mobil). Cuaca panas dan
polusi kendaraan membuat keinginan untuk memiliki kendaraan pribadi
semakin meningkat karena bisa melindungi dari sengatan panas
matahari, debu, dan bau asap kendaraan. Kecepatan juga semakin
dipuja, sehingga semua orang menginginkan mempunyai wahana yang bisa
membawa mereka dari satu tempat ke tempat lain secara cepat. Selain
itu, cara untuk mendapatkan benda-benda tersebut semakin lama
semakin mudah. Misalnya dengan memakai fasilitas kredit atau cicilan.
Becak
Tepat di samping gedung yang sekarang dipakai oleh Buana Fotocopy,
terdapat perusahaan persewaan becak “Pun”. Saya belum pernah
menemukan iklan perusahaan persewaan becak ini di media lokal yang
saya baca. Keberadaan persewaan becak ini saya peroleh dari
cerita-cerita orang. Keberadaan usaha ini membuat banyak becak
mangkal dari depan bangunan persewaan becak sampai depan kompleks
makam Kerkhoffen.
Popularitas becak di kota ini—bahkan sampai saat ini—adalah sifatnya
yang anti polusi, bisa dipakai untuk mengangkut berbagai macam mulai
dari manusia sampai barang-barang, fleksibilitasnya untuk mencapai
gang-gang sempit yang tidak terjangkau oleh mobil, dan satu lagi
nilai istimewa dari becak adalah sifatnya yang romantis. Tidak salah
lagi, pada masa 1970an becak adalah alat angkut yang tepat untuk
muda-mudi yang sedang berpacaran atau baru memulai pendekatan. Cocok
digunakan untuk melakukan percakapan-percakapan pribadi yang intens
dan memberi ruang untuk membangun atmosfer kedekatan antar penumpang.
Meski saat ini telah banyak pilihan wahana kendaraan lain, di banyak
kota becak tetap bertahan dan menawarkan sesuatu yang berbeda.
Ketika Flamboyan berbunga
…Jalanan lengang. Di becak yang meluncur, Tody tetap ingat adiknya.
Margriet yang merajuk jika tak dituruti keinginannya. Sering dulu,
waktu Tody masih SMA, gadis kecil itu ditempelengnya. Kadang hanya
karena kesalahan kecil. Gadis itu membongkar susunan bukunya. Karena
dia senang melihat potret-potret kota di Jerman, India atau
kota-kota besar internasional. Betapa kejamnya dia pada gadis murni
itu. Lima tahun tak melihatnya, entah bagaimana sudah perwujudannya.
Setahun yang lalu dia menerima potret keluarga mereka. Disity
Margriet telah dewasa. Dia cantik. Pastilah dia jadi rebutan
diantara pemuda-pemuda di sana.
Seperti gadis yang duduk di sampingnya ini. Mungkin dia jadi rebutan
senioren-seniorennya. Akibatnya, dia mengalami berbagai perlakuan
overacting dari senioren-seniorennya. Akibatnya, dia pingsan. Sampai
dua kali. Ah! Kenapa tak kuperhatikan sejak siang tadi? Ah!
Irawati merasakan roda becak yang beberapa kali kejeglong di lobang.
Sedang lelaki di sampingnya sebisu arca. Lalu seolah tak sengaja,
disikutnya. Tody tersentak.
“Eh, maaf. Maaf mas Tody, maaf…”
“Hm. Tak apa-apa.”
“Mas Tody kok pendiam banget sih?”
“Aku pendiam?”
“Iya. Membikin orang takut.”
“Kenapa takut?”
“Angker.”
“Kayak hantu kuburan?”
“Ah,” sikut Irawati masuk lagi ke rusuk Tody.
Tody membiarkan sikut yang kecil itu bersarang di pinggangnya.
“Kenapa sih kau gampang pingsan?” tanyanya.
“Habis, kakak-kakak mahasiswa mengerikan.”
“Siapa?”
“Semua.”
“Ah, masak. ‘Kan ada yang baik.”
“Tak ada yang baik. Semua kejam.”
“Mungkin kau yang banyak tingkah.”
“Banyak tingkah bagaiamana?”
“Aleman. Manja.”
“Siapa bilang…?”
Tody diam. Rantai becak berderit-derit. Irawati diam. Desah tukang
becak bercampur dengan dengan desir-desir ban yang bersentuhan
dengan pasir.
“Siapa bilang…?” ulang gadis itu. Tody Cuma menggumam.
“Kakak-kakak senior yang sewenang-wenang. Memerintah seenaknya.
Menghukum semaunya. Masak putri-putri disuruh lari-lari keliling
lapangan. Disuruh push-up,” kata Irawati getir.
“Itu biasa. Melatih mental. Kan kaum wanita yang menuntut emansipasi.
Diberi perlakuan yang serupa dengan lelaki terus ribut. Lalu maunya
cuma persamaan yang enak saja? Kedudukan yang enak, mau sama. Tapi
yang sulit-sulit, ditolak. Emansipasi apa itu?”
Irawati diam. Sedang sikutnya di pinggang lelaki itu masih
bertengger. Membuat Tody tersudut ke pinggir becak. Dan ketika
jeglongan besar, Tody merasa pinggangnya tersodok.
“Wah, sikumu kayak tombak,” katanya seraya memegang siku gadis itu.
“Habis saya kurus sih…”
“Kurus juga cakep.”
“Ah.” Sikutnya masuk lagi. Ditahan Tody.
“Kan orang-orang muda jaman sekarang suka model ceking,” kata Tody.
Irawati meliriknya. Dan mereka tiba di depan rumah yang dinaungi
pohon mahoni.
“Di sini rumah saya mas. Hoop….. Stop cak!” kata gadis itu. Rem
becak berderit. Dan gadis itu melompat.
Eh, seliar itu geraknya. Tadi seperti ayam sakit, pikir Tody.
Irawati membuka pintu pagar.
“Bagus sekali taman ini,” kata Tody.
Bulan bersinar penuh, menimpakan cahayanya pada bunga-bunga di
halaman rumah itu.
“Siapa yang merawat bunga-bunga itu?”
“Mama,” jawab gadis itu. Dan dia menekan bel. Panjang sekali. …
Percetakan dan Bisnis Media
Mal Jogjatronik berdiri di bekas gedung PT. Pertjetakan Republik
Indonesia. Saya berpikir bahwa mungkin keberadaan gedung percetakan
milik negara itulah yang membuat di jalan ini juga terdapat beberapa
usaha percetakan/penerbitan lain.
Begini bunyi iklan percetakan negara itu tahun 1959 .(13)
Masih ada dalam persediaan.
“Rekonstruksi Sedjarah Indonesia Zaman Hindia” oleh Warsito
Sastroprajitno.
Harga Rp. 27,50
PT Pertjetakan Republik Indonesia
Penerbitan-Pertjetakan-Klise
Gondomanan 75-77, Tilp. 729 – Jogja
Berjalan ke utara dari lokasi percetakan negara itu, hanya beberapa
langkah dari kediaman keluarga M Saman dan usahanya, terdapat
percetakan Sinar Asia. Sampai menjelang akhir 1960an, usaha
percetakan ini masih aktif beriklan di koran lokal .(14)
Pertjetakan “Sinar Asia”
Gondomanan 33. Tilp. 475
Perkara tjepatnya, bukti yang akan menjadi saksi. “Sinar Asia”
bersedia juga mendjualkan karcis-karcis untuk pertundjukan amal,
sepak bola, dll.
Penerbit lain di jalan ini adalah Penerbit Jajasan “Pantja Sila”,
terletak di Jalan Gondomanan 43 .(15)
Selesai ditjetak “Pantjasila”
Harga 1 buku f 3
Penerbit Jajasan Pantja Sila
Gondomanan 43 – Jogja
Bidang usaha lain yang paling dekat hubungannya dengan penerbitan
atau percetakan adalah toko buku. Sedikitnya ada tiga toko buku
berada di jalan ini. Ada toko buku Spring (lokasi tepatnya kurang
jelas), toko buku Timbrius (berlokasi di depan SD Kintelan), dan
toko buku BP Nasional di Jalan Gondomanan 1. Toko buku yang terakhir
ini berhubungan dengan keberadaan PNI Marhaen yang bermarkas di
gedung yang sama.
Selain toko buku, gedung ini juga menghasilkan media bernama Harian
Pagi Nasional. Masa kelahiran media ini, tahun 1950an, adalah masa
ketika di negeri ini tumbuh subur banyak partai dengan ideologinya
yang bermacam-macam. Dan hampir semua partai tersebut atau
organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan partai-partai itu
menerbitkan medianya sendiri sebagai corong kebijakan politik
partainya. Masa pers partisan.
Dari Yogyakarta terdapat misalnya Suara Tani, majalah resmi
organisasi Barisan Tani Indonesia, serta Wanita Sedar, yang
diterbitkan oleh sekretariat penerangan/pendidikan pengurus besar
organisasi Gerwis. Dari Jalan Gondomanan, setidaknya terdapat Harian
Pagi Nasional, Revue Indonesia, dan Suara Buruh Pegadaian.
Studio Foto
Mas Mukimin, putra Mas Saman, mempunyai hobi fotografi. Ia membuat
studio foto di samping rumah keluarganya di Gondomanan. Jejak studio
foto tua tersebut adalah dua buah foto berukuran besar tergantung di
dinding teras rumah. Tulisan di papan dalam foto tersebut
bertuliskan: Indonesische Fotograaf Trisno Roso Djokja, dan berangka
tahun 1938. Menurut cerita Pak Prayitno, anak laki-laki Mas Mukimin,
saat itu tidak banyak orang Jawa yang mempunyai usaha studio foto
sendiri.
Tampaknya Mas Mukimin juga diwarisi bakat kreatif dari ayahnya. Ia
mampu membuat mesin pembesaran foto (enlarger) sendiri. Sayang saat
ini sebagian perangkat fotografi peninggalan Mas Mukimin sudah
banyak dibeli orang, sehingga tidak banyak lagi yang tersisa.
Dulu sekali, tidak jauh dari kediaman dan tempat usaha Mas Mukimin,
pernah tinggal seorang fotografer Jawa kenamaan pada jamannya.
Kassian Cephas namanya. Lahir di Yogyakarta pada 1845, dari pasangan
Jawa: Minah dan Kartodrono. Jalan hidup yang ditempuh Cephas
kemudian adalah kehidupan yang dekat dengan kalangan Belanda dan
keluarga elit Kesultanan Yogyakarta. Secara resmi, ia bekerja
sebagai fotografer untuk Kesultanan Yogyakarta. Bahkan Cephas
melakukan prosedur untuk mendapatkan hak legal status “gelijkgesteld
met Europeanen” atau “sejajar dengan orang Eropa” untuk dirinya dan
dua orang anak laki-lakinya—Sem dan Fares. Cephas dan keluarganya
termasuk keluarga Jawa pertama yang menganut agama Kristen Protestan.
Disebutkan bahwa ia adalah murid dari Christina Petronella
Philips-Steven. Paling tidak ada tiga orang Belanda darinya Cephas
mengenal dan mempelajari ilmu fotografi yaitu Isidore van Kinsbergen,
Simon Willem Camerik, dan Isaac Gronemen. Pengetahuan tentang
teknologi kamera dan fotografi didapat dari kalangan penguasa dan
pemegang supremasi pengetahuan tertinggi masa itu: Belanda.
Pada tahun-tahun 1860an dan 1870an, Kassian Cephas sudah dikenal
sebagai fotografer yang mapan. Cephas dan keluarga tinggal di rumah
besar bertingkat tiga di Jalan Lodji Ketjil. Lantai pertama dipakai
sebagai toko, lantai kedua sebagai studio, dan lantai ketiga sebagai
rumah tinggal. Posisi bangunan tempat tinggal Cephas ini kira-kira
berlokasi di tempat dimana bangunan swalayan Progo sekarang berdiri.
Salah satu produk yang dihasilkannya adalah paket foto berisi foto
pemandangan, gambar bangunan, jalan atau monumen-monumen kuno,
sebagai suvenir untuk para pelancong yang datang berkunjung ke
Yogyakarta. Paket suvenir foto itu dijual seharga f 1. Tahun-tahun
itu Cephas jelas bukan satu-satunya fotografer. Saingannya adalah
para fotografer Eropa yang memang biasanya berprofesi sebagai
fotografer keliling dari satu kota ke kota lain dan menyediakan juga
layanan studio untuk publik, seperti Barth & Tagesell, Persijn, O.
Kurkdjian, dan Jos Sigrist.
Tidak diperoleh keterangan dari mana Mas Mukimin ini mendapatkan
pengetahuan tentang fotografi. Pak Prayitno hanya mengatakan bahwa
ayahnya mengenal fotografi sejak tinggal di Yogyakarta. Saat Mas
Mukimin memulai usahanya, usaha fotografi keluarga Cephas yang
diawali dari Kassian Cephas dan lantas diteruskan oleh anaknya—Sem
Cephas—sudah tidak ada lagi. Sem Cephas benar-benar memegang kendali
penuh atas usaha ayahnya pada 1905. Dan pada 1918 ia meninggal
karena kecelakaan berkuda di Alun-alun Kidul. Setelah itu tampaknya
tidak ada lagi yang meneruskan usaha fotografi keluarga Cephas.
Pada awal 1900-an sudah banyak studio berdiri di Yogyakarta, baik
didirikan oleh fotografer yang hanya singgah saja di kota ini maupun
fotografer lokal dan permanen. Selain studio foto yang didirikan
oleh fotografer Belanda dan Jawa (keluarga Cephas), sudah ada dua
studio foto yang didirikan oleh keluarga Cina. Sangat mungkin Mas
Mukimin ini belajar fotografi dari kalangan fotografi yang ada di
kota ini, yaitu dari lingkaran orang-orang Belanda atau Cina.
Baik usaha foto maupun kijing (cerita tentang kijing bisa didapatkan
di bagian lain esai ini) menurut pengakuan Pak Prayitno tidak banyak
dipromosikan melalui iklan. Keluarga ini percaya bahwa konsumen akan
datang dengan cara komunikasi gethok tular saja.(16) Tetapi iklan mini
usaha keluarga M Saman bisa juga dijumpai di media lokal Yogyakarta.
(17)
Menjambut Hari Ulang Tahun ke-XVII Kemerdekaan R.I 17 Agustus 1962.
Photo “M Saman”
Djl. Gondomanan No. 37 – Yogyakarta
Kelak yang mewarisi usaha studio foto tersebut adalah Roestam Saman.
Roestam Saman dan Prayitno sama-sama mempunyai hobi memotret dan
sering berburu foto bersama-sama.
Tiga tahun sebelumnya dan juga tetap dalam rangka menyambut hari
ulang tahun kemerdekaan Indonesia, usaha foto M Saman ini juga
beriklan di koran yang sama. Kali ini berdampingan dengan usaha toko
kijing. (18)
M Saman’s Photo
Siang/Malam & menerima panggilan serie opname
Pada masa itu, usaha studio foto M Saman bukan satu-satunya yang ada
di kota ini. Ada Jogja Studio di Jalan Tanjung 9, ada Janry Photo
Service di Jalan Ketandan 3, dan ada Fotograaf Liek Kong di Tugu
Kidul 81. Hal menarik dari iklan-iklan studio foto ini adalah
penonjolan teknologi terbaru yang diterapkan dalam studio foto
mereka. Mereka berlomba-lomba memamerkan atau menjual kecanggihan
teknologi fotografi terbaru yang mereka gunakan. Film berwarna lebih
canggih daripada film hitam-putih. Iklan di bawah ini menunjukkan
kebanggaan atas film berwarna. (19)
Memperkenalkan!!! Janry Color Photo Service. Ketandan Kidul No 8 –
Jogja.
Alamat untuk: mentjutjikan pilem-pilem berwarna dari merk:
- Geva color N 3
- Geva color N 5
- Geranta color N
- Agfacolor NT dan pakolor
Ditjutji selesai dalam 24 jam. Ongkos sengadja diringankan! Untuk
luar kota tambah ongkos kirim.
Saat ini studio foto M Saman sudah tutup. Berganti dengan usaha
jual-beli voucher handphone. Cucu Mas Mukimin, yaitu putranya Pak
Roestan Saman, Dodi membuka usaha fotografi di samping rumah
keluarganya di Jalan Ireda (Keparakan Lor). Dan mengikuti trend
sekarang, ia membuka studio foto digital.
Kijing
Pemakaman bagi orang-orang Belanda, yang dinamakan
Kerkhoffen pernah berdiam sangat lama di Jalan Gondomanan. Lidah
orang Jawa tidak pernah sempurna melafalkan nama itu, dan selalu
melafalkannya dengan singkat saja: Kerkop.
Dari peta lama (dibuat tahun 1900) seperti tertera di buku tentang
Kassian Cephas terbitan KITLV, pemakaman Belanda tersebut sudah ada.
Tertulis di samping gambar makam tersebut: Europesche Begraafplaats.
Jika mencoba membayangkan posisi makam Belanda itu dalam setting
wilayah itu jauh di masa lalu, sebenarnya tidak aneh jika ia berada di
Jalan Gondomanan. Kerkhoffen berada dalam lansekap ke-Eropa-an yang
kental. Benteng Vredeburg—di Jalan Malioboro (sekarang Jalan Ahmad
Yani)--dibangun pada abad 18. Tetapi para prajurit Belanda tidak tinggal
dalam barak-barak dalam benteng, melainkan di agak luar benteng.
Tepatnya di Kampemenstraat, sekarang bernama Jalan Senopati. Persis di
depan benteng, dibangun rumah dan kantor Residen pada 1824. Pada abad
19, kekuasaan Belanda di Yogyakarta terdiri dari Residen, Asisten
Residen, Sekretaris, Administratur dan 5 orang polisi. Di belakang
benteng, didirikan European Club, yang biasa disebut juga dengan
Societeit, De Vereniging atau The Union. Sekolah dasar untuk orang
Belanda pertama di Yogyakarta berdiri pada 1832, berlokasi di jalan
antara Jalan Lodji Ketjil (sekarang Jalan Mayor Suryotomo) dan Sungai
Code. Sampai sekarang gedung sekolah itu masih ada dan tetap digunakan
sebagai sekolah SD dan SMP milik Yayasan Bopkri. Orang-orang Belanda
yang bukan bekerja di pemerintahan Belanda, bertempat tinggal dan
membangun tempat usaha mereka di daerah sekitar Lodji Ketjil dan Sungai
Code itu (20). Sementara mereka
yang bekerja di pemerintahan biasanya bertempat tinggal tidak jauh
dari rumah dan kantor residen (21).
Pemakaman Belanda yang terdapat di Jalan Gondomanan bukan
satu-satunya pemakaman Belanda di kota ini. Dari kisah kematian
Kassian Cephas diceritakan bahwa ia (bersama dengan istri—Dina
Rakijah, menantu laki-laki dan anak-anak laki-lakinya—Sem dan James)
dimakamkan di Kuburan Sasanalaya: Register Derde Kerkhoff, yang
terletak di antara Pasar Beringharjo dan area Jalan Lodji Ketjil.
Pada peta lama tahun 1900-an, lokasi pemakaman ini memang masih bisa
jelas terlihat, dan berukuran jauh lebih kecil dari pemakaman
Belanda yang ada di Jalan Gondomanan. Tetapi rupanya umur pemakaman
Belanda di area pasar Beringharjo-Lodji Ketjil itu tidak panjang.
Karena disebutkan bahwa pada 1964, seluruh jasad keluarga Cephas itu
harus dipindahkan ke Kuburan Sasanalaya: Register Vierde Kerkhoff
yang ada di Jalan Gondomanan karena di kompleks kuburannya yang lama
akan dibangun jalan dan bangunan.
Di Jalan Gondomanan terdapat usaha kijing satu-satunya yang masih
ada. Di bawah ini adalah sebagian kisah Keluarga M Saman yang
diceritakan kepada kami (22).
Mas Saman dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke
Yogyakarta pada tahun 1920-an. Berbagai macam pekerjaan dijalani di
kota Surabaya. Ia memang terlahir sebagai orang dengan kelebihan
keterampilan tangan yang tinggi. Ia punya keahlian untuk memahat
batu, dan kerap kali menerima permintaan orang Belanda untuk menulis
papan nama. Sampai akhirnya ia mengembangkan untuk membuat
nisan-nisan untuk makam-makam Belanda.
Mas Saman kemudian mewariskan keahliannya tersebut kepada putranya,
Mas Mukimin.
Sampai saat ini usaha kijing keluarga tersebut lebih banyak melayani
pelanggan-pelanggan dari kalangan Keraton Yogyakarta dan kota-kota
lain—Jakarta, Malang, Solo, atau Semarang.
Prayitno tidak pernah diajari secara khusus oleh ayahnya, Mas
Mukimin. Tetapi ia bercerita bahwa kemanapun ayahnya pergi untuk
keperluan pekerjaan kijing, ia selalu diajak. Sampai akhirnya sang
ayah meninggal pada 1963. Pesan terakhir yang disampaikan kepadanya
adalah supaya ia menjaga ibu dan mampu memberi tiang bagi rumah
keluarga. Beberapa saat ayahnya pergi, Prayitno berusaha memenuhi
amanat ayahnya itu dengan membuat tembok untuk rumah supaya tidak
miring. Sampai kemudian ia menyadari bahwa maksud sebenarnya dari
ayah adalah untuknya supaya meneruskan usaha kijing yang telah
dirintis dari kakek tersebut.
Selain keluarga M Saman, di sepanjang jalan Gondomanan juga ada
keluarga pembuat kijing yang lain. Misalnya keluarga Arjosupo. Anak
tertua dari keluarga Arjosupo ini menjadi penerus membuat kijing di
rumahnya yang terletak di belakang Polsek Gondomanan. Tampaknya
usaha keluarga ini sudah tidak dilanjutkan lagi.
Pada tahun 1950-an, pemakaman Belanda itu masih tampak indah. Banyak
patung-patung yang bagus, sejuk karena banyak pepohonan, sehingga
Prayitno dan teman-temannya masih suka menggunakan tempat itu untuk
belajar. Masih menurut cerita Prayitno, patung-patung di makam itu
dibeli dari Italia. Sekarang sebagian kecil patung yang ada di makam
itu bisa ditemukan di kampus Institut Seni Indonesia. Sayang akibat
gempa yang menyerang Yogyakarta minggu lalu, ke-empat patung
bidadari dari Kerkhoffen terbuat dari marmer putih yang ada di
halaman kampus ISI tersebut terguling dan menambah kerusakan dalam
tubuh patung-patung itu.
Pemakaman dan upacara kematian ternyata bagian aktivitas yang biasa
dilakukan secara mewah oleh orang-orang Belanda (23). Bagi pemerintah
Belanda yang tinggal di Batavia misalnya, upacara kematian dikatakan
sebagai upacara yang penuh gengsi dan kemegahan, juga pancaran
keakraban. Peti mati, kereta jenazah, baju yang dipakai keluarga
yang ditinggalkan, kenang-kenangan untuk para pelayat dari keluarga,
kijing, kesemuanya merupakan sarana untuk menunjukkan kemewahan dan
gengsi keluarga. Konsep keindahan dan kemewahan itulah yang membuat
pemakaman Belanda ini indah dan tidak angker/menakutkan. Pada awal
kehadiran kompeni, dikisahkan bahwa batu nisan banyak didatangkan
dari Koromandel, tetapi kemudian dibuat sendiri oleh para pengrajin
Batavia. Batu nisan yang mewah adalah yang mempunyai hiasan tepi
terdiri dari rangkaian dedaunan dengan diselingi bunga-bunga.
Perpaduan antara gaya pengrajin tradisional Jawa dengan tulisan
tangan pahatan khas gaya Eropa. Gaya kijing ala orang-orang Indis
(24).
Karena itu bisa dipahami jika M Saman yang pemahat kemudian menjadi
pemahat tulisan papan nama dan kemudian mengembangkan usaha membuat
kijing. Suatu jalur karir yang masuk akal.
Menarik untuk mencermati desain nisan-nisan—paling tidak dari
sisa-sisa nisan lama yang masih ada di Sasana Laya. Gaya kijing
Indis yang memadukan gaya tradisional—ukiran sulur dan bunga –dan
pahatan tulisan gaya Barat, seperti dideskripsikan diatas tampaknya
juga mengalami perubahan—seperti halnya rumah dan gedung
perkantoran. Perubahan desain kijing ini lebih ke arah garis desain
yang mengacu kepada garis dan model lekukan yang lebih tegas,
elegan, dan kokoh. Mungkin juga perubahan model kijing ini
dipengaruhi oleh desain rumah atau bangunan yang sejaman dengannya.
Melihat kembali sisa-sisa makam Belanda, kijing-kijing yang serupa
dengan model kijing Belanda itu banyak yang bertuliskan nama Cina.
Apakah memang model kijing tersebut adalah mode kijing yang sedang
populer saat itu? Dan jika demikian, apakah berarti memang kelompok
Cina-lah yang mampu ikut menikmati mode kijing tersebut karena
mungkin mereka kelompok yang mempunyai kemampuan ekonomi yang bisa
menandingi orang-orang Belanda itu.
Usaha kijing M Saman tidak pernah membuat jenis kijing seperti orang
Jawa yang biasanya dibuat dari batu hitam dengan dua buah cungkup
diatasnya. Dan jika melihat model-model kijing yang dibuat oleh
keluarga ini, dan kesinambungan desainnya dengan iklan pembuat
kijing “Oesman” untuk makam Belanda di Jakarta (25), dan bentuk-bentuk
kijing yang sampai sekarang dibuat, maka dapat dikatakan pengaruh
kuat Belanda dalam desain kijing ini.
Di jalan Gondomanan juga pernah ada usaha pembuat kijing model Jawa
dari batu hitam. Lokasi usahanya sekarang berada di samping Buana
Fotocopy. Orang-orang sekitar biasa memanggil pembuat kijing Jawa
ini dengan Pak Imo. Setelah Pak Imo meninggal, kediamannya berubah
menjadi usaha persewaan becak “Pun”.
Selain kijing, jenis komoditas serupa yang juga dijumpai di
Gondomanan adalah komoditas peti mati. Para penjual peti mati ini
bisa berkelompok persis di seberang area bekas pemakaman Belanda.
Menurut wawancara dengan Jemek Supardi, para pegawai makam Belanda
yang biasa disebut dengan blegger memang bertempat tinggal di depan
kompleks pemakaman tersebut. Dan sejak itulah katanya berkembang
bisnis penjualan peti jenazah yang meniru model peti jenazah seperti
biasa dipakai orang-orang Belanda. Modifikasi yang dilakukan oleh
para penjual peti jenazah ini adalah peti jenazah yang dalamnya
dilapisi kain putih berlipit-lipit.
Paska tahun 1965, terdapat usaha untuk menggunakan
wilayah pemakaman tersebut sebagai terminal, tempat bis-bis luar
kota ngetem, untuk berhenti sejenak menaikkan dan menurunkan
penumpang. Dan karena itulah menurut cerita orang-orang baik, yang
tinggal disana maupun yang sering melewati jalan itu, pada masa itu
area itu memang tampak semrawut.
29 Desember 1967, tercatat sebagai hari pertama pembukaan taman
hiburan rakyat. Taman Coka Kerkop namanya (26).
Bandjirilah Taman Coka (THR) Kerkop Dibuka tgl 29 Desember 1967
Beramai-ramai untuk menghibur keluarga anda sambil beramal
bergembira di hari-hari besar menjaksikan atraksi:
Panggung terbuka
Wayang orang Pantja Murti
Dagelan Mataram & Djapen Kodja
Bioskop dan sulap-sulapan mengerikan
Permainan anak-anak serta bermatjam lain pertundjukan
Malam tahun baru band dan wajang kulit semalam suntuk
Kesempatan membuka stand!!!
Begitulah. Yang tersisa dari pemakaman yang dulu megah itu hanya
kenangan orang akannya dan sebagian kecil makam bertuliskan
Sasanalaya di pintu gerbangnya di ujung belakang gedung THR
Purawisata. Dan diatas bekas pemakaman itulah orang-orang bergoyang,
mengikuti lagu yang dinyanyikan penyanyi dangdut diatas panggung
setiap malam.
Bahan Bacaan
Koran/Majalah
Harian Kedaulatan Rakjat
Madjalah Merdeka
Mingguan Pesat
Buku
Knaap, Gerrit, Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of
Sultan, KITLV Press, Leiden, 1999
Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978
Soekiman, Djoko, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat
Pendukungnya di Jawa Abad XVIII – medio Abad XX, Januari 2000,
Bentang, Yogyakarta
Toer, Pramoedya Ananta, Jejak Langkah, Februari 2001, Hasta Mitra,
Jakarta
MEMETAKAN GONDOMANAN
Tim Kerja Gondomanan Project
Riset:
Nuraini Juliastuti
Yuli Andari Merdikaningtyas
Antariksa
Penulis:
Nuraini Juliastuti
Kolaborasi Realisasi Gambar dengan:
Sigit Pius
Iwan Effendi
Kolaborasi Realisasi Foto dan Video:
Wimo Ambala Bayang
Terima kasih tak terhingga kepada:
Keluarga Besar Bapak M Saman dan Bapak Prayitno
Keluarga Besar Bapak Jemek Supardi
Yayasan Seni Cemeti
Ruang Mes 56
Bambang Toko
Anton Subiyanto dan Anak Wayang Indonesia
Maria Tri Sulistyani
Mbak Neni, Mas Agung, Ratna (Kedai Kebun Forum)
_____________
catatan kaki:
Bapak Pucung/Pasar Mlati di sebelah selatan Desa Denggung/Desa Kricak
terletak di bagian utara kota (negara)/Pasar Besar (Beringharjo)
terletak di sebelah utara loji [loji gedhe = karesidenan dan rumah
pembesar Belanda]/Belok ke timur tersesat di Gondomanan
Iklan Usaha Toko
Sepeda “Tjong & Co”, Kedaulatan Rakjat, 7 April 1959, hal.4
Toer, Pramoedya Ananta, Jejak Langkah, Februari 2001, Hasta Mitra,
Jakarta, hal. 6
Iklan Usaha Pasar Sepeda Wetan Benteng, Kedaulatan Rakjat, 23 April
1959, hal.4
Hal ini terungkap lewat obrolan dengan Bapak Jemek Supardi, pada 18 Mei
2006, dan wawancara dengan Bapak Prayitno, pada 20 Mei 2006
Iklan Produk Scooter Lambretta, Kedaulatan Rakjat, 21 Juli 1967, hal. 4
Iklan Acara Scooter Vespa, Kedaulatan Rakjat, 30 April 1959, hal. 4
Berita-foto Vespa Scooter Concours d’elegance, Kedaulatan Rakjat, 19 Mei
1959
Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978, hal. 76-77
Kedaulatan Rakjat, 19 September 1959, hal. 2
Knaap, Gerrit, Cephas, Yogyakarta: Photography in the service of the
Sultan, KITLV Press, Leiden, 1999, hal 12-13
Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978, hal.
35-37. Novel ini berkisah tentang kisah cinta segitiga Faraitody,
Irawati dan Widuri, dan mengambil latar belakang kehidupan kampus
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebelum dibukukan, novel ini
terlebih dulu hadir sebagai cerita bersambung di Harian KOMPAS.
Iklan PT Pertjetakan Republik Indonesia, Kedaulatan Rakjat, 26 Agustus
1959, hal. 4
Iklan percetakan “Sinar Asia”, Kedaulatan Rakjat, 22 Juli 1967, hal. 4
Iklan penerbit “Pantja Sila”, Mingguan Pesat No 25, 13 September 1950,
hal. 310
Gethok Tular (bhs Jawa) artinya komunikasi personal dan informal
dari satu orang ke orang yang lain
Iklan Studio Foto “M Saman”, Kedaulatan Rakjat, 16 Agustus 1962, hal. 4
Iklan Studio Foto “M Saman”, Kedaulatan Rakjat, 15 Agustus 1959, hal. 4
Iklan Janry Color Photo Service, Kedaulatan Rakjat, 2 April 1959, hal. 4
Knaap, Gerrit, op.cit, hal. 3-5
Sukiman,
Djoko, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di
Jawa
(Abad XVIII-medio Abad XX), Bentang, Yogyakarta, 2000, hal. 206
Wawancara
dengan Bapak Prayitno, 21 April 2006, di rumah keluarga M Saman, Jl
Brigjend Katamso
Sukiman, Djoko, op.cit, hal. 160-165
Sukiman, Djoko, op.cit, hal. 166-167
Iklan nisan “Oesman” dalam Empat Tahun Sedjarah Indonesia dalam
Gambaran, Madjalah Merdeka, Djakarta, 1949
Iklan pembukaan THR Taman Coka Kerkop, Kedaulatan Rakjat, 29 Desember
1967
|