www.kedaikebun.com

Halaman muka

Profil

Restoran

Toko buku

Galeri foto

Link

Kontak kami

 

 
 

KABAR

 

Kabar lain:

Maret - 10 November 2006

Proyek Seni

SEPTEMBER SOMETHING

Melihat tragedi dari Ruang keluarga

 

Kegiatan:

Workshop

(Maret - September 2006)

Pameran September Something Vol. 1

17 September – 7 Oktober 2005

Pameran September Something Vol. 2

12 Oktober – 10 November 2005

 

Seniman:

Pameran September Something Vol. 1

Agus Adi, Ali Antoni, Anang Saptoto, Hendra harsono, Faturrohman “Indun”, Prihatmokky, DJ Putut, Sadat Laope, Sari Handayani & Pitra Ayu

 

Pameran September Something Vol. 2

H. Priyadani “Blangkon”, Janu Satmoko, Rudi “Aceh” Dharmawan, Edwin “Dolly” Ruseno, KSR. Racun Badak, Rahman “Tito” Harris, Uji Handoko, Iwan Effendi, Erfianto “Gurit” Wardhana, Gede Krisna, Anang Saptoto

 

Project Officer & Kolaborator:

Agung Kurniawan

 

Sekilas tentang proyek ini

Melihat Bencana dari Ruang keluarga
Proyek seni visual (September Something) ini berupaya untuk melihat persoalan ”pembantaian/trauma 1965” dari sudut pandang generasi yang lahir pada masa “puncak keemasan orde baru”. Sebuah generasi yang ditengarai lahir pada periode tahun akhir 70-an atau awal sampai pertengahan delapan puluhan. Generasi ini praktis mengisi sebagian hidupnya dalam “kepompong” mesin propaganda Orde baru; sekolah dasar sampai perguruan tinggi, menonton film lokal dan asing yang terseleksi oleh negara (sebagian kecil mungkin menonton film yang lolos tanpa seleksi), terbiasa berseragam (seragam sekolah, pramuka, paskribaka), hidup dalam “kemewahan” boom ekonomi kedua pada pertengahan delapan puluhan dan awal sembilan puluhan. Bagaimana generasi ini melihat trauma 65? Apa yang mereka ketahui tentang peritiwa itu selain menonton film dari Arifin C. Noor (pengkhianatan G.30. S. PKI), dan gosip?
Bagaimana kita bisa melacak sebuah peristiwa penting yang telah dihilangkan dari ingatan? Bagaimana menjelaskan sebuah peristiwa kepada sebuah generasi yang tidak tahu bahwa telah terjadi sebuah peristiwa penting, atau dengan kata lain bagaimana caranya melawan amnesia massal itu?
Pertanyaan bertubi-tubi di atas akan selalu muncul begitu kita berhadapan dengan trauma 65. Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu akan terus mengganggu oleh karena kita tidak pernah pernah benar-benar mau menjawab. Masa lalu biarlah berlalu, apologia yang kita selalu dengar dari waktu ke waktu.

Melacak peristiwa itu dari artefak-artefak kebudayaan pop.

Oleh karena propaganda masif yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru menyebabkan hampir tidak mungkin untuk menemukan data-data dari tangan pertama. Kekuasaan itu meskipun sekarang sudah berakhir, masih menyisakan residunya (misalnya buku-buku yang dianggap kiri sampai sekarang masih ditempatkan dalam ruang terkunci di perpustakaan daerah Yogyakarta). Cerita-cerita tentang peristiwa itu tetaplah menjadi “sejarah senyap”, dan tetap tidak akan terbuka selama tidak ada sebuah sikap politik untuk mengubah itu.
Situasi itulah yang membayangi proyek ini, oleh karena itulah dibutuhkan sebuah cara untuk menyikapinya. Untuk itu trauma 65 harus di lihat secara “melingkar”, artinya analisa tidak dilakukan langsung pada pokok persoalannya akan tetapi melalui budaya pop yang hidup di jaman itu. Melalui majalah yang diterbitkan pada tahun-tahun itu, lagu-lagu populer, fashion dan lain sebagainya. Dengan cara itu diharapkan pokok persoalan dapat dilihat dengan cara berbeda dan hasilnya diharapkan nantinya jauh dari stereotype.

Mengingat peserta proyek ini adalah seniman muda (lahir pada awal atau pertengahan delapan puluhan) perlu diperkenalkan sebuah pendekatan yang tepat untuk melihat peristiwa ini. Workshop ini juga diadakan dengan asumsi bahwa pendidikan seni dan pendidikan pada umumnya telah gagal menempatkan seni dan ilmu pengetahuan sebagai alat analisa, dan hanya menjadi semata-mata mesin pemproduksi keindahan dan instrumen praksis.

Tujuan proyek

Proyek seni visual ini berangkat dari semangat bahwa seni rupa yang berparadigma a la Fine art tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya pilihan bagi seniman muda, karena itu secara tidak langsung itu adalah upaya depolitisasi sistimatis terhadap disiplin seni. Oleh karena itulah proyek seni semacam ini perlu diadakan terus menerus.

Dengan mengadakan workshop dan pameran diharapkan dapat diperoleh pembacaan yang berbeda mengenahi trauma 65, yang tidak hanya melihat persoalan ini dari sudut korban dan pelaku akan tetapi lebih pada persoalan resepsi personal kaum muda yang “dipinggirkan” dari sejarah itu sendiri.

 

Workshop

Proyek ini dimulai dengan workshop yang terbagi ke dalam beberapa bagian:


1. Mengenalkan seni visual sebagai alat analisa.
Pada workshop ini peserta diperkenalkan bahwa seni visual bukan semata-mata sebagai mesin keindahan akan tetapi juga mempunyai kemampuan untuk dipakai sebagai alat analisa peristiwa-peristiwa sosial.

2. Arkeologi visual, peserta akan diperkenalkan dengan metoda dasar arkeologi yaitu pembacaan benda-benda temuan. Data-data yang sedikit dan terserak pada dasarnya dapat didekati dengan metode arkeologi yang terbiasa mengenali benda-benda temuan baik yang insitu atau pun yang telah hilang konteksnya. Berseraknya data dan hilangnya konteks adalah ciri umum dari data september 65.

3. Semangat dari workshop ini adalah sebuah penulisan “sejarah (visual) personal”, sejarah yang tidak bersifat kanonik. Sejarah ini adalah sub teks dari sejarah besar yang dipenuhi oleh pahlawan nasional, perang, dan kronologis. Pengenalan sejarah ini akan di berikan selama workshop bersama-sama dengan kedua workshop di atas.

4. eksekusi karya. Karya-karya itu meliputi seni video, illustrasi, fashion, seni lukis, grafis dan bentuk seni rupa lainnya.

Seniman & Karya

 

Pameran September Something Vol. 1

Agus Adi, Anang Saptoto, Hendra harsono, Faturrohman “Indun”, Prihatmokky, DJ Putut, Sadat Laope, Sari Handayani & Pitra Ayu

 

Pameran September Something Vol. 2

H. Priyadani “Blangkon”, Janu Satmoko, Rudi “Aceh” Dharmawan, Edwin “Dolly” Ruseno, KSR. Racun Badak, Rahman “Tito” Harris, Uji Handoko, Iwan Effendi, Erfianto “Gurit” Wardhana, Gede Krisna, Anang Saptoto

lebih jauh

 

 

 

SIRKUS PENGANTIN - Pameran Senirupa

 

Proyek Seni  "GONDOMANAN PROJECT"

 

FSSP(Forum Studi Seni Pertunjukan) Beasiswa Penciptaan Teater/ Pantomim 2006

 

A  Queen of Awul-Awul

 

Maaf…tidak ada listrik

 

Proyek Seni

SEPTEMBER SOMETHING:          Melihat Tragedi dari Ruang Keluarga

 

Re:PUBLIK ART - Mencari Ruang Prublik lewat seni rupa temporer

 

Proyek seni "RADIUS 1 KM: Jogja Bergerak !

 

Proyek Seni

Membongkar Koper Budaya Indies-Dari Anyer sampai Panarukan ke Sabang sampai Merauke

 

© 2006  Kedai Kebun                                                                                                                                                                kembali ke atas   l   halaman muka