|
22 Agustus
- 3 Oktober 2005
Proyek Seni
Re:PUBLIK ART
Mencari Ruang Publik
lewat Senirupa Temporer
Kegiatan:
Seminar ( 22 Agustus 2005)
Workshop (23 - 27 Agustus 2005)
Aksi (1-30 september 2005)
City Tour (3 Oktober 2005)
Link terkait:
http://www.ekosystem.org/forum/viewtopic.php
|
 |
|
Seniman:
Uji Handoko, Terra Bajraghosa, Sadat Laope,
Iwan Effendi & Iyok Prayoga, Bambang Toko Wicaksono,
Marianto (Antok), Popok Triwahyudi, Codit (COLA) dan
Farhansiki, Ari Dyanto, Wedharyadi, Uji Handoko, Tatang,
Iyok Prayogo, Janu Satmoko, Arya Panjalu, Iwan effendi,
Faturrahman Indun, Decky Leos, Hendra Priyadi “Blangkon”,
Teater Gardanala, Dani Agus Yuniarto dan Toto Nugroho,
L’ATLAS & SUN 7 (perancis), KILL THE DJ, dll
Titik Lokasi:
Kedai Kebun, Jl. Kaliurang - depan
Mirota Kampus, Jl. Mataram, Jalan Malioboro, Jl.
Tirtodipuran , Selokan Mataram (Perempatan Jl. Gejayan –
Selokan Mataram), Taman SMUN 9 Yogyakarta ( Jl. Sagan),
sekitar Rumah Susun Sewa, pinggir kali code, Jalan
Perwakilan , Jl. Mataram, Galeria Mall, Cemeti art House,
Stasiun Kereta Api Tugu, Jl. Cendana dan Pasar Kembang,
Kompleks SD Jetisharjo, SD Samirono, SD Kanisius
Wirobrajan, Kompleks SD Jetisharjo , SD Samirono, SD
Kanisius Wirobrajan.
Tim Kerja:
Project Officer: Marzuki
Supporting system & manajemen: Kedai
Kebun Forum
Team Kreatif: Agung Kurniawan, Ari
Dyanto, Bambang 'Toko' Witjaksono, Ugoran Prasad
Manajer Proyek: Ratna Mufida
Tim Manajemen : Yustina W. Neni,
Yudhis, Iwan Effendi, Samuel Bagaskara
Dokumentasi Foto: Pak Jepret
Dokumentasi Video: 03 Multimedia
Service
Sponsor:
PT Djarum
|
|
Sekilas tentang proyek ini
Setelah wabah mural di Yogyakarta berkembang pesat
beberapa tahun terakhir ini dan menghasilkan beragam fenomena menarik,
sebuah proyek yang menamakan dirinya re:publik mencoba untuk menyodorkan
cara pandang lain yang lebih segar atas mural dan graffiti. re:publik
berangkat dari kegelisahan melihat perkembangan mural yang cenderung
dekoratif dan belakangan telah pula dikooptasi oleh korporasi. Mural
yang dimaksudkan sebagai sarana ekspresi sosial telah dibubuhi oleh
logo-logo iklan komersial, tak ubahnya billboard dan sarana periklanan
luar ruang lainnya.
Dengan upaya mencari dan menampilkan gagasan-gagasan segar dalam seni
mural dan graffiti, re:publik mengadakan serangkaian acara dari mulai
seminar, workshop, dan diakhir dengan aksi mural selama sebulan penuh di
Yogyakarta. Berkaitan dengan hubungan antara seni di tempat umum dengan
ruang publik, proyek ini bermaksud mempertanyakan dan melacak ulang
keberadaan ruang publik di kota Yogyakarta. Benarkah ruang publik itu
ada? Ataukah ini hanya mitos di kota budaya, ketika salah satu syarat
tata ruang kota adalah adanya ruang terbuka yang dapat diakses secara
demokratis oleh warga kota? Benarkah ruang publik bukanlah sesuatu yang
secara sistematis hendak diciptakan oleh birokrat pengelola kota?
Benarkah bahwa upaya sporadis penduduk kota untuk merebut dan
menciptakan ruang publiknya sendiri adalah satu-satunya jalan agar
publik mendapatkan haknya sebagai warga?
Dengan serangkaian aktifitas, praktik kesenian, dan pengorganisasian
jaringan di atas, re:publik berharap bahwa aktifitas-aktifitas di tempat
umum akan terus bertumbuhan dan menciptakan apa yang selama ini
diidam-idamkan sebagai ruang publik, ruang kita bersama.
|
|
Seminar
Seminar dengan tema Mencari Ruang Publik Lewat Seni Temporer, bermaksud
untuk menemukan jalan bagi sekian pertanyaan di atas dengan menimbang
ulang potensi-potensi seni rupa di tempat-tempat umum dari beragam sisi.
Mahatmanto, dosen Arsitektur UKDW, mencoba melihatnya dari sisi
tata ruang kota. Samuel Indratma, seniman dan aktivis seni rupa di
tempat umum, mengungkap apa yang selama ini berlangsung dalam
relasi antara perupa dan ruang sosial yang mereka datangi. Pembicara
terakhir dari Dinas Tata Kota, mengurai posisi kebijakan tata kota
dan arah strategisnya.
TOR (term of reference) seminar
|
|
Workshop
Workshop yang difasilitasi oleh dua
seniman Perancis, L’Atlas (Street Art) dan Sunset (Graffiti), dan tim
kreatif re:publik selain membuka peta estetika seni rupa di tempat umum,
juga menekankan pada pola ekplorasi gagasan-gagasan tematik sebagai
cara perupa membangun kesadarannya atas lingkungan tempat mereka
mempresentasikan karya-karya mereka. Workshop yang diikuti oleh 30 orang
perupa mural dan graffiti dari Jakarta, Bandung, dan dan Yogyakarta
lebih jauh tentang
L’Atlas (Street Art)
lebih jauh tentang Sun7 (Sunset) -
(Graffiti)
|
|
Catatan Aksi September
Aksi Re:Publik Art diselenggarakan di titik 16 lokasi di kota Yogyakarta
dipilih sebagai situs pengerjaan karya atau tempat dimana karya-karya
itu akan di presentasikan.
Dua orang seniman dari Paris, l’Atlas dan Sun7, bekerja di paruh
pertama bulan September dan telah menyelesaikan karya grafitti mereka
di Jalan Cendana dan di daerah Pasar Kembang. Sekelompok seniman
lokal dari latar belakang grafitti dan seni visual mengerjakan
karya mereka di deret pertokoan di Jalan Mataram. Karya yang akan
berkampanye tentang hemat energi secara khusus dikerjakan di dinding
sisi selatan Jalan Perwakilan. Karya mural dan grafitti telah pula
diselesaikan di daerah sekitar Selokan Mataram. Medium grafitti juga
diperluas, tak lagi sebatas dinding melainkan di jalan, berbentuk
zebra-croos yang disertai informasi pelayanan publik di Jalan
Kaliurang dan di perempatan utara Jalan Malioboro. Karya dengan tema
memberikan pelayanan informasi ini juga akan digelar di stasiun Tugu.
Selain berbentuk lukisan dinding dan grafitti, re:publik juga telah
memfasilitasi karya-karya tiga dimensi.
Masih di stasiun tugu, untuk meletakkan papan informasi, re:publik
memfasilitasi karya robot penunjuk arah dan tempat pembuangan sampah
alternatif. Bertujuan untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih
ramah bagi anak-anak, salah satu karya tiga dimensi dipresentasikan
di dekat tiga sekolah dasar di Yogyakarta. Karya tiga dimensi berupa
halte tunggu dan robot pengaman ini dirancang untuk bermain-main
dengan imajinasi anak sekaligus memiliki fungsi untuk menyiasati
kemacetan lalu lintas di sekitar sekolah, khususnya di waktu jam bubar
sekolah.
Jembatan Juminahan di daerah Kali Code juga dipilih untuk
mempresentasikan karya mekanik yang bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran atas kebersihan lingkungan. Karya mekanik ini berupa tempat
pembakaran sampah tertutup yang telah diuji aman bagi lingkungan.
Bersama karya ini pula, sebuah karya mural dengan tema rekonsiliasi
dipresentasikan, sesuai dengan sejarah lokal seputar pembangunan
jembatan itu.
Karya tiga dimensional terakhir yang sedang dikerjakan berupaya untuk
menggali pahlawan lokal. re:publik kali ini memilih untuk mengangkat
tokoh Gundala Putra Petir dan memasang patungnya di depan SMA
9. Tokoh ini kami anggap penting, selain kenyataan bahwa Gundala
merupakan produk lokal yang sempat cukup berpengaruh dalam imajinasi
suatu generasi, juga karena kami merasa idiom-idom semacam ini juga
penting untuk diberadakan sebagai tanda lain dari konstruksi tokoh
pahlawan di tempat-tempat umum.
Pada tanggal 29, dimulai dari jam 13.00 – 2.00 wib, sebelum hari
penutup, re:publik art menampilkan Gardanalla Toko Cerita, di galeria
mall, sepanjang hari. Toko Cerita ini adalah bentuk lain dari
performance di tempat terbuka yang menampilkan baik aktor maupun
tokoh-tokoh bukan aktor yang ingin membagi ceritanya melalui benda-benda
yang akan dijual dan dipajang di etalase toko. Setiap benda akan
menyimpan cerita personal maupun kontekstual, suatu cerita tentang
orang-orang dilingkungannya.
Setelah lebih dari sebulan re:publik mencoba mewujudkan
niatan-niatannya, kini giliran publik untuk memberikan penilaian dan
responnya. Dari respon-respon inilah pertumbuhan aktifitas di tempat
umum terus terjaga, sebagaimana re:publik juga adalah respon dari
gerakan-gerakan sebelumnya. Bagaimanapun, cita-cita menciptakan ruang
kota yang lebih nyaman untuk ditinggali tak pantas untuk sekedar menjadi
cita-cita kosong.
Data karya, lokasi & seniman
|
|
City Tour
Berangkat dari Kedai Kebun Forum, seluruh peserta city
tour, yang terdiri dari media, dan aktivis kesenian di Yogyakarta diajak
berkeliling kota untuk menyaksikan karya-karya dari Aksi Re:Publik Art
secara langsung di lokasinya masing-masing. Sekaligus, dalam acara ini,
seluruh peserta city tour dapat mengobrolkan karya-karya dalam Re:
Publik Art bersama seniman dan pemilik lokasinya.
Rute City Tour:
Kedai Kebun Forum, Kompleks SD Jetisharjo, Selokan
Mataram Jl. Gejayan, SMUN 9 Yogyakarta, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Jl.
Abu Bakar Ali, Jl. Perwakilan, Jl. Cendana, Rumah Susun (Kampung
Juminahan)
|
|
Sponsor
Sebagai suatu kerja yang diniatkan sebagai
proyek yang terbuka, re:publik berusaha pula untuk mencari daya dukung
yang bersedia membuka diri dengan perubahan masyarakatnya.
PT. Djarum telah menyatakan dukungannya untuk mendanai seluruh kegiatan re:publik
tanpa kompensasi menerakan iklan komersial produk mereka. Karya-karya
mural dan graffiti yang nantinya akan digelar oleh re:publik tidak akan
mencantumkan merek produk atau logo perusahaan PT. Djarum sedikitpun.
Pola dukungan finansial semacam ini biasanya telah berlaku umum dalam
dunia seni terutama oleh lembaga-lembaga pendana internasional seperti
Prince Clause, Open Society, atau Hivos, tapi tergolong tidak pernah
dilakukan oleh perusahaan yang bersifat komersial. Kerjasama yang lebih
didasarkan oleh kepentingan yang bersinggungan ini tampaknya merupakan
angin segar dalam mencari pola hubungan yang lebih mutualis, yang tidak
semata-mata kooptatif, antara perusahaan komersial dengan aktifitas
kesenian.
|
|
|
SIRKUS PENGANTIN -
Pameran Senirupa
Proyek Seni
"GONDOMANAN PROJECT"
FSSP(Forum Studi
Seni Pertunjukan)
Beasiswa Penciptaan Teater/ Pantomim 2006
A Queen of Awul-Awul
Maaf…tidak ada listrik
Proyek Seni
SEPTEMBER
SOMETHING:
Melihat Tragedi dari Ruang Keluarga
Re:PUBLIK ART -
Mencari Ruang Prublik lewat seni rupa temporer
Proyek seni "RADIUS 1 KM: Jogja
Bergerak !
Proyek Seni
Membongkar Koper
Budaya Indies-Dari Anyer sampai
Panarukan ke Sabang sampai Merauke
|