|
5 Februari - 27 Maret 2005
Proyek Seni
RADIUS 1 KM: JOGJA
BERGERAK !
Kegiatan:
Workshop
- workshop pre event
- workshop anak-anak
- workshop manula
Pameran Foto & Video Dokumenter /
Film pendek
(5 Februari - 27 Maret 2005)
Diskusi (14 Maret 2005)
Inisiator & Project
Officer:
Yustina W. Neni
|
 |
|
Sekilas tentang proyek ini
KOTA
Kota selain dimaknai secara geografis, sebenarnya secara
ideologis, sebutan itu juga dibangun oleh mobilitas pemaknaan yang
dilakukan oleh manusia yang menghuni wilayah tertentu.
Yogyakarta, secara stereotip sering dimaknai sebagai kota budaya dan
kota pendidikan.
Identitas kota bergerak tarik menarik antara mengemban
tradisi kehidupan raja-raja dan modern karena mengemban misi kota
sebagai kota pendidikan. Modernitas ini memacu Yogyakarta bergerak lurus
sebanding dengan pergerakan kota lainnya.
Perbaikan, pengindahan, dan pembangunan prasarana fisik kota,
terus-menerus dijalankan oleh pemerintah kota. Kota ini semakin menarik
dan semakin padat saja.
Bercerita tentang kota memang memancing emosi, baik suka, cinta, benci,
rindu, kasihan, sebel, gemes, dll. Kota tidak pernah habis untuk
dibahas.
TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan memotret tentang Yogyakarta selalu saja muncul dalam
bentuk stereotipnya sebagai kota budaya yang eksotis, ada andong, tugu,
kraton, malioboro, dll.
Kegiatan ini bertujuan menangkap gerak kota Yogyakarta dari sudut lain
dan lebih pendek yaitu RADIUS 1 KM dari titik yang dipilih oleh
pelakunya dengan media fotografi dan video/film. Kegiatan ini adalah
pengamatan jarak dekat atas pertumbuhan atau kemandegan Yogyakarta
dengan segala paradoksnya. Kegiatan ini tidak sedang berusaha memotret
Yogyakarta dari “angkasa” melainkan mendekati Yogyakarta dari sudut yang
intim. Berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang situasi, kondisi, dan
peristiwa yang terjadi di wilayah tertentu, rekreasi edukatif dan
sportif.
|
|
Peserta +background dan
Pameran
KKF mengundang sekitar 50 orang untuk
berpartisipasi dalam kegiatan ini, terdiri dari berbagai usia, profesi,
jenis kelamin, asal, dan orientasi seksual. Mereka tidak diharuskan
memiliki keahlian teknis memotret atau membuat film, dan tidak ada
keharusan menggunakan kamera atau teknis tertentu. Sehingga siapapun
boleh mengikutinya. Satu-satunya syarat yang mengikat adalah peserta
minimal telah tinggal di Jogja selama 2 tahun. Namun demikian tidak
semua bersedia ikut, kecuali alasan sibuk atau tema pameran yang
dianggap kuno, ada yang beralasan malu, takut salah, tidak bisa
memotret, dll.
Akhirnya, mereka yang berani ikut adalah:
Peserta Pameran Foto
Oblo Dwi Prasetyo (Journalist
Photographer), Angki Purbandono (Photographer), Denny Wijaya (College
Student), Denny Novian (College Student), Tjahyono Prasojo (Archelogy
lecturer, Letter Faculty of Gadjah Mada University ), Etty Prasojo
(Lecturer, freelace researcher), Rani (student, 9 years old), Suluh
Pratitasari (Advertising company), Nunuk Ambarwati
Vinolia (Mami) (Activist on Cross Gender & HIV education ), Yuni Shara
(Cross Gender activist)
Linda Kaun (Batik artist, USA citizen live and work in Yogyakarta),
Sanggar Cakrawala (Alternative Education for children community ),
Katrin Bandel (Lecturer, Germany citizen, live and works in Yogyakarta),
Romo Budi Subanar (Lecturer, Pastor), Aditya (Cross gender)
Peserta Pameran
Video
Wimo Ambala Bayang (Fotografer &
Videomaker), Samuel "Genthong" Bagaskara (Freelance Backstage crew),
FX Woto Wibowo (Wok the Rock) (Graphic Designer, videomaker), Dessy
Sahara Angelina (College student, videomaker), Zulhan Sasmitha
(Videomaker), Anang Saptono (College student, videomaker),
Gentur-Vietnam & Arsita Pinandito (Videomaker)
Ina Arianti (College student, videomaker), Edwin Dolly Ruseno +
Choiru pradono (Ndik) (Videomaker), Ibnu Gepeng (Student,
videomaker), Jimmy Mahardika (Videomaker & musician), Anak-Anak
Cakrawala, Budi 'Tobon' Arifianto (College student, videomaker)
Partisipasi Penonton
Pameran ini sangat terbuka untuk direspon umum.
Pengunjung boleh berpartisipasi dengan cara mengirim foto/ video
yang sesuai dengan tema untuk melengkapi pameran ini. Foto yang
dikirim boleh berupa foto hasil memotret atau kliping foto yang
ditemukan di majalah, koran, atau album foto mereka di rumah.
Dua orang yang akhirnya merespon pameran
ini dengan menempelkan foto-foto koleksi mereka adalah: Shuniya Ruhama Habuballah (aktivis cross-gender),
merespon foto karya Yuni Shara & Mami Vinolia (aktivis cross gender &
aktivis HIV/AIDS). Yang kedua adalah Rahmat Taufik, mahasiswa Univ.
Negeri Yogyakarta, yang merespon foto bangunan-bangunan heritage di yang
ada di Yogyakarta karya Tjahyono (Dosen arkeologi UGM).Selain mereka,
ada satu orang responden lain yang turut memasang karya videonya, yaitu
M. Taufan (Colllege student)
|
|
Workshop Edit Foto
Selama pameran berlangsung
diadakan 4 kali workshop, setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu.
Peserta workshop telah ditentukan oleh KKF, yaitu kelompok manula usia
diatas 60 tahun, kelompok anak-anak usia 8 – 14 tahun dan kelompok Pak
Polisi. Tetapi pengunjung dimungkinkan berpartisipasi dalam workshop
sebagai volunteer. Workshop ini akan berpengaruh pada pamerannya.
Kelompok workshop akan memilih foto-foto yang terpajang dengan
pertimbangan mereka sendiri dan kemungkinan besar akan ada foto yang
tereliminasi. Foto-foto yang tereliminasi ada kemungkinan dipamerkan
kembali jika kelompok workshop berikutnya memilihnya.
|
|
Karya Foto & Video capture
Galeri Foto & video capture/Radius 1Km: Jogja
Bergerak!
|
|
Diskusi
Pembicara : Wicaksono Dwi Nugroho (Arkeolog Perkotaan/ Regol Buletin)
Moderator : Agung Kurniawan (perupa/ Direktur artistik Kedai Kebun Forum
Bagaimana orang yang tinggal di Yogyakarta dapat memaknai
kotanya di tengah kepungan makna yang sudah terlanjur dilekatkan di kota
Yogyakarta. Kota budaya, pelajar, perjuangan, dan lain sebagainya.
Bagaimana penyebutan-penyebutan itu berati atau diartikan bagi wong
jogja yang sehari-hari mengisi kota yang sudah berusia ratusan tahun
ini. Apakah sebutan kota budaya cukup dimaknai dengan banyaknya
aktifitas “kebudayaan” di kota ini, akan tetapi sekaligus juga dengan
semakin sempitnya ruang dimana orang bisa merasa dimanusiakan (trotoar
sempit, pejalan kaki yang di biarkan kepanasan dan menjadi target empuk
bagi mobil untuk diserempet), kota pelajar apakah masih berlaku ketika
kampus-kampus bukan lagi menjadi tempat bagi orang belajar akan tetapi
berubah menjadi ladang bisnis yang menganggap mengelola sekolah sama
halnya seperti membuka toko kelontong.
Sebutan-sebutan yang dimaknai secara top down itu mungkin saja sekarang
lapuk dimakan usia, Pemerintah Kota berusaha sekuat tenaga untuk
melanggengkan citra itu dengan berbagai cara; membangun gedung pameran
dan pertunjukkan (yang nyaris selalu kosong), membangun trotoar yang
kemudian dipenuhi dengan pedagang kaki lima dan parkir mobil, dan
upaya-upaya lainnya. Salah satu hal penting yang terlupa dari usaha
sia-sia PemKot (Pemerintah Kota) adalah melibatkan wong jogja dalam
politik pemaknaan kota itu sendiri. Oleh karena kota selalu dipandang
sebagai urusan negara, pemda dan pemuka masyarakat, rakyat biasa hanya
neroko katut.
Proyek pameran foto, video/ film pendek, & workshop edit foto “Radius 1
KM: Jogja Bergerak!” mencoba memandang Yogyakarta lewat detail yang
di(ter)lupakan, anak-anak, bencong, gay, seniman, orang tua dan
“orang-orang kecil” lainnya. Dari konteks ini maka nampaklah bahwa
jaringan pemaknaan kota Yogyakarta dapat dibentuk melalui jaringan makna
yang dibentuk jalin menjalin antar komunitas-komunitas yang disebut di
atas. Sehingga bisa jadi muncul pemaknaan Yogyakarta sebagai kota ruwet
(lihat Video karya seorang anak peserta pameran) dan lain sebagainya.
Upaya ini adalah agenda yang ingin didiskusikan oleh Kedai Kebun Forum
(KKF) Yogyakarta dengan sudut pandang lain. Akankah Yogyakarta terlihat
seperti bulan purnama (indah nian di malam hari dan remuk redam ketika
dilihat dengan menggunakan lensa teropong)? Bagaimana memahami
Yogyakarta sekarang, cukupkah dengan menciptakan slogan baru (Jogja
Never Ending Asia) dengan menggandeng seorang ahli pemasaran atau
menciptakan pemaknaan lewat kerja pelaku-pelaku kota yang menghidupi dan
menghiasi kota tua ini. Selain situasi kekinian, yang ingin juga dilihat
dalam forum ini nanti adalah bagaimana Yogyakarta sebagai sebuah kota
terbentuk, bagaimana peran politis Yogayakarta berubah dari waktu ke
waktu dan apakah perubahan peran politis itu juga mempengaruhi
perkembangan kota secara fisik. Dan yang terakhir, dari titik pandang
arkeologis bagaimana Yogyakarta dapat dibayangkan pada masa depan?
|
| |
|
|
SIRKUS PENGANTIN -
Pameran Senirupa
Proyek Seni
"GONDOMANAN PROJECT"
FSSP(Forum Studi
Seni Pertunjukan)
Beasiswa Penciptaan Teater/ Pantomim 2006
A Queen of Awul-Awul
Maaf…tidak ada listrik
Proyek Seni
SEPTEMBER
SOMETHING:
Melihat Tragedi dari Ruang Keluarga
Re:PUBLIK ART -
Mencari Ruang Prublik lewat seni rupa temporer
Proyek seni "RADIUS 1 KM: Jogja
Bergerak !
Proyek Seni
Membongkar Koper
Budaya Indies-Dari Anyer sampai
Panarukan ke Sabang sampai Merauke
|