www.kedaikebun.com

Halaman muka

Profil

Restoran

Toko buku

Galeri foto

Link

Kontak kami

 

 
 

KABAR

 

Kabar lain:

22 September – 10 Oktober 2005
Proyek Seni Membongkar Koper Budaya Indies:

Dari Anyer sampai Panarukan ke Sabang sampai Merauke

 

Aktivitas:
Pameran Seni Rupa “Apa Kabar, Mener?”
22 September – 18 Oktober  2004
Pemutaran Film : De Still Kracht
Rabu - Sabtu, 6 – 9 Oktober 2004
Pementasan Cerpen: Chalie Anak Betawi
Minggu, 27 September 2004
Seminar “Membongkar Koper Budaya Indis : Dari Anyer sampai Panarukan ke Sabang sampai Merauke”
Minggu, 10 Oktober  2004

 

Tim Kerja:
Tim Kurator:
Agung Kurniawan & Ikun SK

Koordinator Proyek: Ratna Mufida

Supervisor: Yustina W. Neni

 

Proyek Ini terselenggara atas kerjasama dengan:

The Netherlads Royal Embassy Jakarta

 

Sekilas tentang proyek ini

 

Proyek ini pada dasarnya ingin menggali ingatan bahwa Indonesia adalah mosaik yang terdiri dari berbagai keping pembentuk, yang satu sama lain berbeda. Oleh karena berbeda itulah tercipta bentuk yang kemudian dengan pongah disebut Indonesia. Melihat kembali perbedaan-perbedaan itu secara arif sekaligus kritis, untuk menandai sebuah upaya kecil “perang melawan lupa”.

Indies adalah kebudayaan campuran, ia merupakan anak haram dari pertemuan dua arus kebudayaan besar; pihak luar dan dari dalam. Percampuran ini tentu saja akan menghasilkan konsekuensi-konsekuensi di berbagai hal. Konsekuensi pertama adalah munculnya identitas mengambang.


Kebudayaan campur yang telah disebut di atas, tidak terjadi dengan mudah, tetapi lebih ditengarai sebagai percampuran yang disertai dengan ketegangan-ketegangan. Bumi putera dengan inlander, Islam dengan sekularisme. Akan tetapi ketegangan itu toh tetap saja menghasilkan sebuah kebudayan “para sinyo”, orang-orang pertama dengan identitas terbelah. Dan sekali lagi seperti disebut di atas mereka adalah salah satu keping mosaik pembentuk kebudayaan kotemporer Indonesia bersamaan dengan unsur “asing” lainnya : peranakan Cina, India, dan Arab. Akan tetapi karena alasan-alasan politik tertentu kenyataan itu diingkari.

Oleh karena percampuran itulah hampir tidak mungkin kita menemukan sebuah bentuk kebudayaan Indonesia asli, sehingga mau tidak mau ketika sekarang menyebut Indonesia ingatan tentang Belanda dan Indo muncul.

 

lebih lanjut ...

 

Pameran Rupa: Apa Kabar Meneer ?

Pameran ini melibatkan seniman-seniman dari tiga generasi. Generasi tertua berasal dari seniman yang telah mengecap paling tidak beberapa generasi sekaligus; masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru, dan sekarang. Kelompok kedua adalah seniman yang dididik dalam era Orde Baru awal sampai akhir, dan yang terakhir adalah kelompok seniman muda yang baru saja lulus atau sedang kuliah.


Pameran ini tidak mengunggulkan kualitas penciptaan melainkan sebagai “sample” barang produksi. Bagaimana gagasan pertautan kebudayaan dimungkinan bertemu kembali tanpa disadari dalam bentuk barang-barang produksi yang dikonsumsi oleh manusia sehari-hari? Penampilan pameran senirupa Apa Kabar, Meneer? ini tidak berbeda dengan pameran-pameran seni rupa lainnya, termasuk adanya upaya penawaran gagasan tematik kepada para seniman. Perbedaannya hanya terletak pada pencantuman waktu lahir para seniman selain data karya. Pencantuman waktu lahir menunjukkan masa interaksi kebudayaan dan resepsi atas pengalaman-pengalaman.


Salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini, dan juga seniman tertua adalah Maryono, seorang pelukis kaca,  tinggal di Muntilan.Dikisahkan olehnya --ketika kami mengunjungi rumahnya yang sederhana-- bahwa pada pertempuran Class II Maryono sudah berusia 13 tahun. Pertempuran di Muntilan diceritakan sebagai si “cocor merah” (pesawat Mustang) meraung-raung. Selain pertempuran sengit, terjadi juga pemerkosaan. Salah satu akibat perkosaan itu antara lain adalah lahirnya seorang tetangga yang sering dipanggil dengan sebutan sinyo: “londo ning doyan tiwul”, dan sekarang “ndoro sinyo” itu bekerja sebagai buruh linting di pabrik rokok.


Sebagai sebuah masyarakat yang gampang lupa dan melupakan, pameran ini jadi agak berarti karena ia menyentuh wilayah tabu yang selalu ada di kepala orang Indonesia atau Jawa tentang keaslian identitas mereka dengan menyebutnya sebagai “pribumi”. Pertanyaan yang tersisa kemudian: bagaimana dengan orang-orang dari Timor Timur, ketika sekarang Timor Timur sudah merdeka? Siapa mereka? Akan kita golongkan mereka sebagai “apa”? Di mana posisi kita --orang Indonesia yang modern dan mengaku diri intelek? Sejak dicanangkan kebijakan otonomi daerah, provinsi di seluruh Indonesia menjadi (sementara) 32 provinsi, apakah “puncak-puncak kebudayaan nasional” tidak lagi menjadi (hanya) 27 buah? Apakah akan ada proyek merombak Taman Mini Indonesia Indah?

 

Seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah:

1. Maryono (lahir: 8 Juli 1938)
2. Alfi Jumaidi (lahir: 19 Juli 1973)
3. Galam Zulkifli (lahir: 14 Januari 1971)
4. Tita Rubi (lahir: 15 Desember 1968)
5. Wimo Ambala Bayang (lahir: 14 Oktober 1976)
6. RM. Soni Irawan (lahir: 15 Januari 1975)
 

lebih jauh ...

 

Pemutaran Film: De Stille Kracht

Enam film yang diputar dalam kesempatan ini adalah salah satu upaya memandang, merekam dan membingkai Indies. Indies yang pada mulanya adalah soal ras itu, pada akhirnya tokh juga dipahami sebagai sebuah gaya hidup dan pada gilirannya sebuah percampuran budaya. Kalau --dalam hal ini-- Indies lebih diartikan sebagai yang bermukim di Indonesia, ini lebih hanya soal kepentingan atas kasus: karena kita atau kami hidup dan berada di Indonesia.


Lalu siapakah Indies?


Dari segi tematik dipilih film-film dari sineas Belanda yang menampilkan romantisme masyarakat Belanda atas Indonesia baik di masa kolonial atau pun sesudahnya. Sedangkan film-film dari sineas Indonesia dipilih film-film di masa sekarang yang merupakan cermin cara pandang ideologis sutradara film Indonesia --yang sebagian besar dari Jawa-- terhadap realitas kehidupan masyarakat Indonesia lainnya atau sebutlah luar Jawa. Adakah perbedaan --ataupun kesamaan-- cara pandang di antara keduanya terhadap obyek dan gejala atau masyarakat yang direkam dalam film-film ini?

 

Enam film yang diputar adalah:

1. De Stille Kracht TV Series - karya  Walter van Derkamp
2. Trilogi Ke-Indonesia-an  - karya Garin Nugroho
3. Bedjo Van Derlaak - karya Eddy Cahyono
4. Ayis  – karya  Wimo Ambala Bayang
5. Berlari untuk Entah – karya  Wimo Ambala Bayang
6. Aku Ingin Menciummu Sekali Saja – karya  Garin Nugroho

 

Keenam film tersebut diputar bergantian selama 3 hari berturut-turut, Rabu - Sabtu, 6 – 9 Oktober 2004,  jam 19.00 - 21.00 wib. Film serial televisi De Still Kracht, arahan sutradara asal Belanda Walter van Derkamp yang berdurasi total 231 menit diputar secara berseri dalam 3 kali pemutaran, berdampingan dengan film-film lainnya.

Dari dalam rumah Residen Van Oudijck, kita melihat sosok-sosok ras campuran Jawa-Belanda. Kita melihat baju koko potongan Cina, kursi goyang ukir dengan ragam tatahan –pahatan—gaya pesisiran yang kaya akan flora dan fauna. Kita, di film itu, juga melihat Raden Ngajiwa yang mengenakan beskap dan udeng dengan dasi kupu di bawah leher, minum minuman yang memabokkan dan meminta musik bermain –dan itu bukan gamelan. Di luar itu semua, kita juga menyaksikan van Oudijck yang mengalami shock menemukan bak mandi tiba-tiba berwarna darah, cermin yang memantulkan bayangan goyang, dan pejabat yang suka mabuk, juga berjudi.


Mungkin Indies adalah bertemunya budaya itu. Bertemunya Belanda dan Jawa, Belanda dan Padang, atau Belanda dan Papua. Tetapi bagaimanakah proses dialogal pertemuan itu? Otoritas yang bagaimanakah yang bermain? Bisakah dikatakan Indies adalah kuasa Tuan Residen yang merasa bisa memecat Ngajiwa lantaran suka berjudi dan mabuk? Atau Indies adalah kegamangan dalam bertemu dengan alam gaib? Alam yang berada di luar rasionalisme Tuan Residen? Yang itu berarti juga selingkuhnya Nyonya Residen dengan anak tirinya sendiri?


Lalu bagaimana ketika Jawa bertemu dengan Papua yang juga telah bertemu dengan Belanda? Otoritas yang bagaimanakah yang bermain, ketika Sonya perawan Papua yang Katholiknya tentu hasil pertemuan dengan Belanda itu cemburu pada Lulu Tobing? Perasaan yang bagaimanakah yang muncul dalam diri laki-laki yang bukan ras Irian itu dalam mensikapi pengakuan dosa dari Sonya yang menyiratkan kecemburuan rasisme? Adakah perasaan itu juga sama dengan perasaan Residen Laboewangi mendengar gugatan mabok Ngajiwa?

lebih jauh ...

 

Pementasan Cerpen: Chalie Anak Betawi
 

Chalie anak Betawi adalah judul pembahasan dalam buku Bianglala Sastra ketika membahas Chalie Robinson atau Vincent Mahieu atau Jaan Boon. Vincent Mahieu mengumpulkan beberapa cerpennya yang ditulis dengan setting atau latar cerita Indonesia pada masa-masa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kumpulan cerpennya yang pertama diberi judul “CIS” dengan latar cerita Betawi yang kental dan memperlihatkan konflik-konflik sehari-hari dalam sebuah keluarga Indis. Cerpen kedua diberi judul “CUK”. Kumpulan “CUK” ini lebih kental suasana konflik bersenjata antara pihak Belanda dan Indonesia. Adapun latar cerita yang ditampilkan adalah kota-kota di seputar Jawa Timur. Dalam kesempatan ini akan dibacakan cerpen-cerpen Vincent Mahieu dalam kumpulan “CIS” dan akan disertai oleh cerpen tamu.

Tiga Cerpen karya Chalie yang dipentaskan adalah Dasi, Pagar, Vivere Pericolosamente, dan satu cerpen tamu karya Seno Gumiro Ajidarma yang berjudul Jakarta 1998

 

Dipilihnya Jakarta 1998 karya Seno Gumira Ajidarma karena cerpen ini secara terang-terang mengambil topik sebuah lingkungan kota (Jakarta) dan secara tendensius ingin mengungkap meski terkesan sepintas peristiwa amok massa yang terjadi pada tahun tersebut. Jika karya sastra dengan metodenya sendiri memungkinkan menjadi semacam laporan etnografis, pilihan-pilihan cerpen ini diharapkan mampu melakukan tugas itu: melihat Betawi atau sekarang Jakarta itu dalam secuwil panorama dunianya yang berselang oleh waktu dan sejarah.

 

Empat cerpen ini dipentaskan dengan empat model. Ibnu Gundul mahasiswa jurusan teater Intitut Seni Indonesia Yogyakarta, memilih mementaskan cerpen Pagar dengan cara membaca diiringi tiga pemusik. Tendensi menghadirkan jaman lama itu sempat muncul dalam cakapan Adi Marsono yang kerepotan mencari lagu-lagu berbahasa Belanda yang dia bayangkan menjadi bumbu pemanis pementasannya. Adi membacakan cerpen Vivere Pericolosamente. Wiro aktor yang kuliah di sebuah akademi bank di Yogyakarta membangun pementasannya dengan cara menghapal teks cerpen Jakarta 1998 dari Seno Gumira Ajidarma. Sequel-sequel adegan dalam cerpen pun coba dimainkannya sebagai adegan. Adegan-adegan wayang dibangunnya dengan tarian yang merujuk pada gerakan tarian wayang orang. Pola pemeranan Wiro yang keluar masuk antara teks cerita dan realitas keseharian menghadirkan suasana yang memancing tawa. Pementasan Teater Alto yang memainkan cerpen Dasi menutup peristiwa Pementasan Cerpen ini. Dramatisasi cerpen yang diberlangsungkan Teater Alto menghadirkan sequel-sequel cerita dalam cerpen itu sebagai adegan-adegan di atas panggung.

 

Menikmati empat pementasan cerpen itu, seperti sedang bertamasya ke ruang-ruang otoritas kreatif senimannya.

lebih jauh ...

 

Seminar Membongkar Koper Budaya Indis:

Dari Anyer Sampai Panarukan ke Sabang Sampai Merauke


Seraya menggali ingatan, seminar ini juga berusaha merumuskan wajah sendiri yang –mungkin- pongah dan belang-bontheng itu; Risiko apakah yang mungkin ditanggungkan dari gejala identitas kreol, ketika muncul dalam bingkai kesenian?

Seminar ini menghadirkan pemikir-pemikir muda yang lahir sebagai generasi kreol, yaitu Nuraini Juliastuti, eksponen KUNCI Cultural Studies Center dan Primanto Nugroho, seorang aktivis dari Nandan Institut of Art Studies (NIAS) yang juga pengamat media dan konflik.

 

Nuraini Juliastuti, yang biasa dipanggil Nuning ini mengulas fenomena hubungan wacana indo ini pada masa Indonesia paska-kolonial. Nuning mencoba memasuki wacana indo sebagai hibridasi organik (percampuran antar ras) dengan segala bentuk eksesnya dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Indonesia  kontemporer melalui kabar-kabar  seputar artis, selebritis, dunia hiburan, panggung televisi yang dimuat media massa. Karena baginya,  komponen-komponen diatas merupakan wacana penting dalam wacana budaya kontemporer Indonesia. Sedangkan perihal hibridasi non-organik - percampuran konsep kebudayaan yang berbeda-beda, ia tampilkan dengan mengulas kasus percampuran bahasa yang sudah menjadi bahan perdebatan diantara aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, hingga fenomena adanya anggapan masyarakat umum di kota-kota besar (seperti Jakarta) bahwa kemampuan berbahasa Inggris dapat meningkatkan status sosial seseorang. Lebih jauh lagi, ia membawanya pada persoalan hibridasi budaya yang terjadi  di Indonesia saat ini dengan maraknya peniruan-peniruan maupun adaptasi-adaptasi budaya dari 'barat' yang notabene berasal dari 'luar' Indonesia . Ia mengkritisi cara kita memandang 'pusat' dan 'pinggiran', yang lebih suka disebutnya  sebagai pergantian posisi “pusat” dan “pinggiran”, suatu kondisi yang pada hakekatnya menyiratkan bahwa berada di “pinggiran” tidak selalu berarti terpinggirkan, karena justru dengan segala kejanggalan itulah posisi “pusat” diguncang, dipertanyakan kembali, sekaligus disesuaikan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhannya.

lebih jauh ...

 

Entah itu indies atau indonesia, ada 1 pembeda keadaan yang tegas antara tahun 2004 dengan masa 60-an tahun sebelumnya. Hari-hari ini siapapun juga orang berkartu identitas RI ketika berhadapan dengan lingkungan di luar Indonesia akan dengan mudah menemukan dirinya merasa malu, gagap, dan penuh rasa tak percaya diri, atau pendek kata adalah gejala inferiority complex maupun saudara kembarnya kompensasi dan over kompensasi. Berbeda dengan, misalnya saja selepas revolusi (!) kemerdekaan Indonesia ketika sekelompok seniman di Paris yang dengan sehati-seperasaan bersama setiap nasion yang melepaskan diri dari kolonialisasi menyampaikan lukisan-lukisan kepada bangsa Indonesia. Seorang pria asal Sunda yang ditugaskan Bung Karno mengurus penerimaan karya-karya tsb, di kemudian hari bercerita bahwa saat itu keindonesiaan sama sekali tidak identik dengan rendah diri –di hadapan londo yang paling putih secara kulit maupun secara kultur sekalipun!

 

Masyarakat Indonesia kotemporer adalah kebalikan dari itu semua. Indonesia kotemporer adalah sebuah masyarakat beku yang diletakkan dalam tabung kaca dan membiarkan dirinya terjebak dalam perangkap identitas yang dibuat dalam bentuk maket, buku sejarah dan monumen-monumen lainnya.

Dalam rumusan berbeda dapat diungkapkan bahwa indies sebagai topik identifikasi kiranya bukan merupakan kenyataan psikobiologis melainkan lebih merupakan praktik sosial dalam batas ruang dan waktu yang tertentu.

Oleh karenanya pertanyaan tentang ke-indies-an kita bisa diibaratkan seperti menanyakan tinggi tubuh dengan skala kilogram. Pertanyaan tentang indies hendaknya tidak dilepaskan dari jaringan pelembagaan dan praktik sosial yang menyapih ‘identitas kolektif’ dalam wujud: agamisasi, mekanisasi sekolah, manajemen kekerasan, dan lembaga ekonomi yang tak pernah beranjak dari posisi infant industry. Keempat wilayah berbudi-daya itu berada dalam genggaman rekayasa ideologi.

Poros putaran keadaan dalam ruang sosial sugestif tak pernah bisa tunggal. Sebagai bentuk nalar konsumsi ia selalu bermuka dua dan datang sebagai wajah Dewa Janus. Pada 1 sisi wajah itu berwujud rupa-rupa kenikmatan egosentris --yang meneruskan angle mooi indie--, sementara pada sisi sebaliknya tak lain adalah kekerasan, kekerasan, dan kekerasan. Jika pada sisi pertama wajah Janus itu muncul melalui film dokudrama berjudul Pengkhianatan G30S/…., maka pada sisi sebaliknya yang ada ialah film Ada Apa dengan Cinta sampai ke paket acara Akademi Fantasi. Pada sisi pertama lembaga penggeraknya adalah birokrasi sekolah yang sepenuhnya dikendalikan oleh state apparatus. Sedangkan pada sisi sebaliknya segenap gegap-gempita antrean penonton film maupun pengirim SMS sepenuhnya bergerak sebagai irama konser dengan tangan korporasi sebagai konduktornya.
 

Primanto Nugroho, Pengamat Media dan Konflik, tinggal di Yogyakarta

lebih jauh ...

 

Komentar-komentar


……keberhasilan kurasi pameran pada pameran ini dinilai berdasarkan kemampuan kurator mengkategorikan kecenderungan tertentu pada sejumlah perupalainnya. Tapi ketika gejala budaya indies sejatinya ada pada setiap perupa – juga ada pada pameran ini – dan bahkan pada setiap manusia modern Indonesia, maka pameran ini terasa berat pada label tinimbang isinya.

(Raihul Fadjri – Koran Tempo, Senin, 18 Oktober 2004)


Saya kira, pameran ini tidak mencoba secara frontal untuk menjadi representasi dari tiga generasi tersebut dalam menelurkan budaya yang dipengaruhi Belanda. Apalagi kebanyakan tidak mengalami langsung persentuhan yang intens dengan barat dalam interaksi sosialnya. Yang terrpampang adalah cara pandang mereka dalam meromantisasi kenangan dan kisah lama tentang Belanda yang pernah berkuasa di bumi ini, sehingga kalau kurator berharap munculnya citra “kultur indies” (budaya silang Indonesia – Belanda), niscaya tak ada yang spesifik terlihat di sini. Isu “indies” memang menarik sebagai “gosip”, tetapi secara visual belum ada dalam pameran kali ini. Apa boleh buat , Meneer!

(Kuss Indarto – Media Indonesia, Minggu, 3 Oktober 2004)


…. Saya tergelitik untuk mengatakan bahwa wacana yang ditawarkan pameran yang juga mengadakan pemutaran dan seminar budaya indies itu akan semakin menarik jika mekanisme kurasinya dipertajam dan posisi kuratornya dipertegas. Sepanjang yang saya ketahui, pameran itu berjalan seolah ada kurasi, namun tanpa kurator. Dalam kasus ini publik akan sulit melihat mekanisme pemilihan seniman yang benar-benar berkutat dalam wacana yang digulirkan sang kurator – meskipun seringkali kurator juga mematut-matut wacana di atas karya yang dipamerkan.
Ataukah memang pameran ini seperti melihat ikan dalam akuarium?

(Aminuddin TH Siregar – Kompas, Minggu, 10 Oktober 2004)



… karya-karya ini lebih sebagai ilustrasi wacana, bukan “bangunan Indies” yang disebut sebagai percampuran yang khas. Dengan kata lain, bila menyebut atau melihat karya-karya yang tampil di atas, saya lebih senang meletakkan karya mereka adalah karya eklektik, politik percampuran yang sangat umum, atau bahkan bisa dikatakan pada estetika pascamodern. Agaknya Agung masih terlampau berkonsentrasi pada perkara opini, bukan artefak hasil kurasinya.

(Mikke Susanto, staf pengajar ISI Yogyakarta – SKH. Suara Merdeka, Minggu, 26 September 2004)
 

 

 

SIRKUS PENGANTIN - Pameran Senirupa

 

Proyek Seni  "GONDOMANAN PROJECT"

 

FSSP(Forum Studi Seni Pertunjukan) Beasiswa Penciptaan Teater/ Pantomim 2006

 

A  Queen of Awul-Awul

 

Maaf…tidak ada listrik

 

Proyek Seni

SEPTEMBER SOMETHING:          Melihat Tragedi dari Ruang Keluarga

 

Re:PUBLIK ART - Mencari Ruang Prublik lewat seni rupa temporer

 

Proyek seni "RADIUS 1 KM: Jogja Bergerak !

 

Proyek Seni

Membongkar Koper Budaya Indies-Dari Anyer sampai Panarukan ke Sabang sampai Merauke

 

© 2006  Kedai Kebun                                                                                                                                                                kembali ke atas   l   halaman muka